Selasa, 13 Juli 2010

Amanat Prabu Wastu Kancana



Prabu Raja Wastu atau Niskala Wastu Kancana adalah putera Prabu Maharaja Lingga Buana yang gugur di Palagan Bubat pada tahun 1357. Wastu Kancana adalah satu-satunya ahli waris Linggabuana yang masih hidup, karena ketiga saudaranya telah wafat.

Ketika terjadi Pasunda Bubat usia Wastu Kancana baru 9 tahun dan ia satu-satunya ahli waris Prabu Maharaja yang masih hidup. Setelah pemerintahan di jalankan pamannya yang sekaligus juga mertuanya (Sang Bunisora), Wastu Kancana dinobatkan menjadi raja Sunda di Kawali pada tahun 1371 dalam usia 23 tahun.

Niskala Wastu Kancana banyak dibimbing dan diajarkan masalah kenegaraan dan keagaamaan, oleh Sang Bunisora. Ajaran tentang kesejatian hidup yang kemudian dikenal masyarakat sebagai Wasiat (wangsit) Kancana tentunya tidak terlepas dari pengaruh bimbingan Sang Bunisora, yang memang dikenal sebagai rajaresi. Di dalam Carita Parahyangan ia diberi gelar Satmata. Salah satu Wali yang diberi gelar Satmata dalam Babad Tanah Jawi adalah Sunan Giri.

Menurut Kropak 630, tingkatan batin manusia dalam keagamaan adalah acara, adigama, gurugama, tuhagama, satmata, suraloka, dan nirawerah. Satmata adalah tingkatan kelima dan tahap tertinggi bagi seseorang yang masih ingin mencampuri urusan duniawi. Setelah mencapai tingkat keenam (suraloka), orang sudah sinis terhadap kehidupan umum. Pada tingkatan ketujuh (nirawerah) padamlah segala hasrat dan nafsu, seluruh hidupnya pasrah kepada Hiyang Batara Tunggal - Tuhan Yang Maha Esa. (Yosef Iskandar : 2005).

Peranan Sang Bunisora tersebut membentuk pribadi Wastu Kancana menjadi orang yang bijak dan religius. Penulis Carita Parahyangan menguraiakan bahwa :

*



“Sanajan umurna ngora keneh, tingkah lakuna seperti nu geus rea luangna, lantaran ratu eleh ku satmata, nurut ka nu ngasuh, Hiang Bunisora, nu hilang di Gegeromas.” (Sekalipun umurnya masih muda namun perilakunya seperti yang sudah banyak pengalaman, sebab ratu taat kepada Satmata, mentaati pengasuh nya, Hyang Bunisora, yang mendiang di Gegeromas).


Penulis Carita Parahyangan mengisahkan Kehidupan Wastu Kancana, dan bagaimana rakyat mencintainya. Uraian tersebut seolah-olah memuji-muji perilakunya, bahkan dapat dijadikan contoh generasi penerusnya. Tulisan dalam Carita Parahyangan tersebut, sebagai berikut :

Aya deui putra Prebu, kasohor ngaranna, nya eta Prebu Niskalawastu kancana, nu tilem di Nusalarang gunung Wanakusuma. Lawasna jadi ratu saratus opat taun, lantaran hade ngajalankeun agama, nagara gemah ripah. - Sanajan umurna ngora keneh, tingkah lakuna seperti nu geus rea luangna, lantaran ratu eleh ku satmata, nurut ka nu ngasuh, Hiang Bunisora, nu hilang di Gegeromas. Batara Guru di Jampang. Sakitu nu diturut ku nu ngereh lemah cai. -- Batara guru di Jampang teh, nya eta nyieun makuta Sanghiang Pake, waktu nu boga hak diangkat jadi ratu. -- Beunang kuru cileuh kentel peujit ngabakti ka dewata. Nu dituladna oge makuta anggoan Sahiang Indra. Sakitu, sugan aya nu dek nurutan. Enya eta lampah nu hilang ka Nusalarang, daek eleh ku satmata. Mana dina jaman eta mah daek eleh ku nu ngasuh. -- Mana sesepuh kampung ngeunah dahar, sang resi tengtrem dina ngajalankeun palaturan karesianana ngamalkeun purbatisti purbajati. Dukun-dukun kalawan tengtrem ngayakeun perjangjian-perjangjian make aturan anu patali jeung kahirupan, ngabagi-bagi leuweung jeung sakurilingna, ku nu leutik boh kunu ngede moal aya karewelanana, para bajo ngarasa aman lalayaran nurutkeun palaturan ratu. -- Cai, cahaya, angin, langit, taneuh ngarasa senang aya dina genggaman pangayom jagat. -- Ngukuhan angger-angger raja, ngadeg di sanghiang linggawesi, puasa, muja taya wates wangenna. -- Sang Wiku kalawan ajen ngajalankeun angger-angger dewa, ngamalkeun sanghiang Watangageung. Ku lantaran kayakinan ngecagkeun kalungguhanana teh.


Pada masa Wastu Kancana ada peristiwa yang cukup penting, yakni peristiwa Perang Paregreg ; masuknya pengaruh islam ke Tatar Sunda yang di bawa oleh Bratalegawa atau Haji Purwa Galuh, putra Sang Bunisora, dan tibanya Laksmana Ceng Ho di Pelabuhan Cirebon. Didalam rombongan tersebut terdapat Syekh Hasanudian yang kemudian turun di Karawang serta mendirikan Pesatren Quro.

Wasiat Wastu Kancana.
Keberadaan Wastu Kancana di Kawali ditegaskan dalam dua buah prasasti. Hal ini sekaligus juga menunjukan adanya eksistensi kerajaan Sunda di Kawali. Prasasti di Astana Gede dimaksud memuat, sebagai berikut :

Prasasti Kawali 1 :
00 nihan tanpa kawa-
Li nu siya mulia tanpa bha-
Gya parebu raja wastu
Mangadeg di kuta kawa-
Li nu mahayu na kadatuan
Surawisesa nu margi sa-
Kuliling bdayeuh nu najur sagala
Desa aya ma nu pa(n) deuri pakena
Gawe rahhay pakeun heubeul ja-
Ya dina buana 00

(yang berada di kawali ini adalah yang mulia pertapa yang berbahagia Prabu Raja Wastu yang bertahta di Kawali, yang memperindah keraton Surawisesa, yang membuat parit [pertahanan] sekeliling ibu kota, yang mensejahterakan [memajukan pertanian] seluruh negeri. Semoga ada [mereka] yang kemudian membiasakan diri berbuat kebajikan agar lama berjaya di dunia).

Prasasti Kawali 1 tentu tidak bisa dipisahkan dari Prasasti Kawali Ke 2. Intinya menjelaskan sebagai berikut :

Prasasti Kawali 2 :
Aya ma
nu ngeusi bha-
gya kawali ba-
ri pakena kere-
ta bener
pakeun na(n)jeur
na juritan.

[semoga ada (mereka) yang kemudian mengisi (negeri) Kawali ini dengan kebahagiaan sambil membiasakan diri berbuat kesejahteraan sejati agar tetap unggul dalam perang].

Isi dari prasasti kedua ditafsirkan para ahli sejarah Sunda sebagai Wangsit (Wasiat) Wastu Kencana, ditujukan kepada generasi sesudahnya. Wasiat ini berisi tentang wasiat agar selalu berbuat kebajikan (pakena gawe rahayu) dan kesejahteraan yang sejati (pakena kereta bener), konon perbuatan ini jika dilaksanakan dapat menjadikan sumber kejayaan dan kesentausaan segenap manusia. Wasiat di dalam prasasti yang kedua memiliki makna yang universal. Mungkin jika diterapkan dalam teori kepemimpinan dapat memberikan arah yang jelas bagi perilaku pemimpin dalam melaksanakan amanah sehingga dapat dicintai rakyatnya.

Pokok - pokok ajaran kesejahteraan sejati diuraikan didalam kropak 632 dan 630, dikenal dengan sebutan naskah Siksa Kanda Ng Karesyan. Naskah tersebut sama dengan ajaran tentang tetekon hirup yang dikenal dalam yang dianut Batari Hyang – pembuat parit Galunggung, bahkan masih dijadikan ajarannya resmi pada jaman Prabu Siliwangi (1482-1521 M) yang bertahta di Pakuan Pajajaran.

Menurut RPMSJB, salah satu kunci ke arah kesejahteraan sejati itu dalam kropak 630 lembar 26 dan 27 diuraikan sebagai berikut :

Teguhkeun, pageuhkeun sahinga ning tuhu,
pepet byakta warta manah,
mana kreta na bwana,
mana hayu ikang jagat kena twah ning janma kapahayu.
Kitu keh, sang pandita pageuh kapanditaanna, kreta ;
sang wiku pageuh di kawikuanna, kreta ;
sang ameng pageuh di kaamenganna, kreta ;
sang wasi pageuh dikawalkaanna, kreta ;
sang wong tani pageuh di katanianna, kreta ;
sang euwah pageuh di kaeuwahanna, kreta ;
sang gusti pageuh di kagustianna, kreta ;
sang mantri pageuh di kamantrianna, kreta ;
sang masang pageuh di kamasanganna, kreta ;
sang tarahan pageuh di katarahanna, kreta ;
sang disi pageuh di kadisianna, kreta ;
sang rama pageuh di karamaanna, kreta ;
sang prebu pageuh di kaprebuanna, kreta.

Ngun sang pandita kalawan sang dewarata pageuh ngretakeun ing bwana, nya mana kreta lor kidul wetan sakasangga dening pretiwi sakakurung dening akasa, pahi manghurip ikang sarwo janma kabeh.

(Teguhkan, kukuhkan batas-batas kebenaran, penuhi kenyataan niat baik dalam jiwa, maka sejahteralah dunia, maka sentosalah jagat ini sebab perbuatan manusia yang penuh kebajikan.

Demikianlah hendaknya. Bila pendeta teguh dalam tugas nya sebagai pendeta, akan sejahtera ; Bila wiku teguh dalam tugasnya sebagai wiku akan sejahtera ; Bila manguyu teguh dalam tugasnya sebagai akhli gamelan, akan sejahtera ; Bila paliken teguh dalam tugasnya sebagai akhli seni rupa, akan sejahtera ; Bila ameng teguh dalam tugasnya sebagai pelayan biara, akan sejahtera ; Bila pendeta teguh dalam tugasnya sebagai pendeta, akan sejahtera ; Bila wasi teguh dalam tugasnya sebagai santi, akan sejahtera ; Bila ebon teguh dalam tugasnya sebagai biarawati, akan sejahtera ; Bila pendeta teguh dalam tugasnya sebagai pendeta, akan sejahtera ; Demikian pula bila walka teguh dalam tugasnya sebagai pertapa yang berpakaian kulit kayu, akan sejahtera ; Bila petani teguh dalam tugasnya sebagai petani, akan sejahtera ; Bila pendeta teguh dalam tugasnya sebagai pendeta, akan sejahtera ; Bila euwah teguh dalam tugasnya sebagai penunggu ladang, akan sejahtera ; Bila gusti teguh dalam tugasnya sebagai pemilik tanah, akan sejahtera ; Bila menteri teguh dalam tugasnya sebagai menteri, akan sejahtera ; Bila masang teguh dalam tugasnya sebagai pemasang jerat, akan sejaktera ; Bila bujangga teguh dalam tugasnya sebagai ahli pustaka, akan sejahtera ; Bila tarahan teguh dalam tugasnya sebagai penambang penyebrangan, akan sejahtera ; Bila disi teguh dalam tugasnya sebagai ahli obat dan tukang peramal, akan sejahtera ; Bila rama teguh dalam tugasnya sebagai pengasuh rakyat, akan sejahtera ; Bila raja (prabu) teguh dalam tugasnya sebagai raja, akan sejahtera.

Demikian seharusnya pendeta dan raja harus teguh membina kesejahteraan didunia, maka akan sejahteralah di utara barat dan timur, diseluruh hamparan bumi dan seluruh naungan langit, sempurnalah kehidupan seluruh umat manusia). [Jilid Ketiga, hal 39]

Inti ajaran Siksa Kanda Ng Karesyian sebagaimana yang dimuat di dalam kropak 630 memberikan arti bahwa Jika setiap manusia berpegang teguh kepada kebenaran dan menjalankan kewajiban sesuai dengan tugasnya masing-masing maka akan mencapai kesejahteraan sejati. Kesejahteraan sejati dimaksud meliputi kejehteraan batin dan kesejahteraan lahir. Kesejahteraan batin jika manusia tidak mengingkari kebenaran, sedangkan kesejahteraan lahir dapat diperoleh jika dalam menjalankan tugasnya dilakukan dengan cara yang jujur dan bersungguh-sungguh. Itulah yang di wasiatkan Wastu Kancana kepada generasi sesudahnya.

Wasiat tentang kesejahteraan lahir mengandung pula konsep tentang bagaimana manusia harus teguh dan memiliki dedikasi dibidang keahliannya. Konsep dan visi Wastu Kancana menurut hemat saya lebih maju dari praktek kenegaraan sekarang. Saat ini banyak orang yang bukan negarawan mengurusi masalah negara, para ahli agama banyak yang terjun menjadi politikus, banyak politikus jadi pedagang, banyak kaum pedagang jadi penentu kebijakan negara. Semuanya menyebabkan kerancuan dan menjauhkan bangsa dari kesentosaan.

Mungkin perlu direnungkan kembali tentang nilai-nilai luhur yang dinasehatkan Wastu Kancana. Nilai-nilai tersebut pernah menjadi jati diri urang Sunda. Hal nya sama dengan Naskah Darma Pitutur yang dimuat dalam korpak 630. Intinya mengajarkan, bahwa bertanyalah kepada ahlinya, serta serahkanlah suatu persoalan kepada ahlinya masing-masing. Tentang masalah keagamaan maka tanyakanlah kepada ahli agama – masalah perniagaan bertanyalah kepada ahli niaga – masalah kenegaraan bertanyaan kepada negarawan. Janganlah ahli agama turut campur memaksakan kehendak untuk mengurus negara - tukang dagang ikut-ikutan menentukan kebijakan politik, karena semua itu bukan bidangnya.

Demikian seharusnya ahli agama dan raja harus teguh membina kesejahteraan didunia, maka akan sejahteralah di utara - barat dan timur, diseluruh hamparan bumi dan seluruh naungan langit, sempurnalah kehidupan seluruh umat manusia.

Terakhir marilah kita renungkan Wasiat tersebut sebagai kearifan masa lalu. Karena : ada dahulu ada sekarang, karena ada masa silam maka ada masa kini. Bila tidak ada masa silam maka tiada masa kini. Ada tonggak tentu ada batang. Bila tak ada tonggak tentu tidak ada batang. Bila ada tunggulnya tentu ada catangnya.

Hana nguni hana mangke –
Tan hana nguni tan hana mangke –
Aya ma baheula hanteu teu ayeuna –
Henteu ma baheula henteu teu ayeuna –
Hana tunggak hana watang –
Hana ma tunggulna aya tu catangna.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar