Selasa, 13 Juli 2010

Pajajaran



Poerbacaraka pada tahun 1921 menyebutkan, bahwa istilah Pakuan Pajajaran berasal dari kata istana yang berjajar (“aanrijn staande hoven”). Hal ini dimungkin demikian, mengingat nama tersebut gabungan dari nama ibukota (Pakuan) dengan nama keraton Sri Bima – Punta – Narayana – Madura – Suradipati (Pajajaran). Dalam sastra klasik disebut Panca Persada yang berarti lima bangunan keraton, sedangkan di dalam naskah Wangsakerta sering disingkat dengan menyebut Sang Bima atau Sri Bima.

Nama Keraton dan pendirinya diberitakan di dalam Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3 halaman 204 – 2005, sebagai berikut :

Hana Pwanung magadegaknya Pakwan Pajajaran lawan kadatwan Sang Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati ya ta Sang Prabu Tarusbawa (adapun yang mendirikan Pakuan Pajajaran beserta keraton Sang Bima – Punta – Narayana – Madura – Suradipati adalah Sanh Prabu Tarusbawa).


Nama Keraton di Pakuan tersebut dituliskan didalam berita kropak 406 atau Fragmen Carita Parahyangan. Naskah dimaksud menyebutkan :

Di inya urut kadtwan, ku Bujangga Sedamanah ngaran Sri Kadatwan Bima – Punta – Narayana – Madura – Suradipati. Anggeus ta tuluy diprebokta ku Maharaja Tarusbawa deung Bujangga Sedamanah. / Disiar kahulu Cipakancilan, katimu ku Bagawat Sunda Mayajati, ku Bujangga Sedamanah di baan ka hareupeun Maharaja Tarusbawa. (Di sanalah bekas keraton yang oleh Bujangga Sedamanah diberi nama Sri Kedatuan Bima – Punta – Narayana – Madura – Suradipati. Setelah selesai dibangun lalu diberkati oleh Maharaja Tarusbawa dan Bujangga Sedamanah. / Dicari ke hulu Cipakancilan, ditemukan disana Bagawat Sunda Majayati ; oleh Bujangga Sedamanah di bawa ke hadapan Maharaja Tarusbawa)


Prasasti Kabantenan, yakni Prasasti yang dibuat dari tembaga dan ditemukan di Bekas, menggunakan nama Pakuan Pajajaran (lengkap), Pakuan (tanpa Pajajaran) dan Pajajaran (tanpa Pakuan). Urang sunda lebih nyaman menggunakan nama Pajajaran untuk nama kerajaan dan nama Pakuan untuk nama ibukota. Pemilihan nama tersebut pada akhirnya digunakan pula oleh para penulis sejarah Sunda.

Pakuan sebagai ibukota Sunda dicacat oleh Tom Peres (1513 M) di dalam “The Suma Oriantal”, ia menyebutkan bahwa ibukota kerajaan Sunda disebut dayo (dayeuh) itu terletak sejauh sejauh dua hari perjalanan dari Kalapa (Jakarta). Menurut Laporan VOC, perjalanan dari bekas benteng Pakuan ke muara Ciliwung tempat benteng VOC memakan waktu dua hari.

Saleh Danasasmita (1983 : 2) menghubungkan asal muasal nama keraton dengan nama kota di mana keraton tersebut berada. Menurutnya : “Nama keraton sering meluas menjadi nama ibu kota, bahkan akhirnya sering menjadi nama negara. Contoh nyata adalah Ngayogyakarta Hadiningrat dan Surakarta Hadiningrat yang sebenarnya nama-nama keraton, sekarang meluas menjadi ibukota dan juga nama wilayah”. (Yoseph Iskandar 2005 : 228).

Di dalam versi lainnya menyebutkan, bahwa penggunaan istilah Pajajaran untuk nama kerajaan Sunda sebenarnya mulai digunakan pada masa Prabu Susuktunggal, ayah mertua Sri Baduga Maharaja. Hal ini dikemukakan didalam tulisan Atja Sasmita dan Edi S. Ekadjati, : “Pada waktu Sang Haliwungan berusia 13 tahun, ia diangkat menjadi rajamuda Sunda, dengan nama abhiseka Prabu Susuktunggal, baginda memerintah di Pakuan Pajajaran”. (Ibid : 229).

Pajajaran dipilih untuk nama kerajaan Sunda di Pakuan dimungkinkan akibat sering terjadi perpecahan dan bersatunya kembali antara kerajaan Sunda dengan kerajaan Galuh, sejak tahun 669 M, ditandai dengan Galuh menyatakan kemerdekaannya, demikian pula pada masa sesudahnya, seperti pada masa Sanjaya, Manarah dan pasca Wastu Kancana, sehingga untuk menghindarkan kesalahan pahaman, seperti masa Tarusbawa memindahkan ibukotanya ke Sundapura, maka dipilihlah nama Pajajaran untuk penerus kerajaan Sunda dengan Galuh tersebut.

Istilah Pajajaran kemudian digunakan pula untuk kisah-kisah di dalam cerita babad dan pantun, bahkan didalam Babad Tanah Jawi, menyebutkan kerajaan Sunda dengan nama Pajajaran. Hal tersebut dijelaskan sebagai berikut :

ing tahun 1433 Sang Ratu Dewa iya Raja Purana, ngadegake kutha anyar aran Pakuan. Karajan iki aran Pajajaran. Tulisan kang ana ing watu kono nerangake manawa Sang Prabu yasa segaran. Pajajaran semune krajan rada gedhe lan ngerehake Cirebon barang.


Pajajaran pada jaman Siliwangi tentunya bukan hanya suatu obrolan ringan, kita pun dapat melayang kealam ketentraman hidup dimana raja dan rakyat hidup sajajar lan ngajajar, raja adil dan rakyat sentosa, murah sandang murah pangan, seperti yang dilantunkan Ki Baju Rambeng, seorang juru pantun dari Bogor.

• Talang tulung keur Pajajaran
• jaman aya keneh kuwarabekti
• jaman guru bumi di pusti-pusti
• jaman leuit tangtu eusina metu
• euweuh nu tani mudu ngijon
• euweuh nu tani nandonkeun karang
• euweuh nu tan paeh ku jengkel
• euweuh nu tani modar ku lapar

(masih mending waktu Pajajaran / ketika masih ada kuwarabekti / ketika guru bumi dipuja-puja / ketika lumbung padi melimpah ruah / tiada petani perlu mengijon / tiada petani harus mati kelaparan / tiada petani harus mati karena kesal / tiada hatus petani mati karena lapar). Cag heula. (***)


Sumber Bacaan :


Prabu Siliwangi atau Ratu Purana Prebu Guru Dewataprana Sri Baduga Maharaja Taru Haji Di Pakwan Pajajaran 1474 – 1513, Amir Sutaarga, Pustaka Jaya, Bandung - 1966.


Kebudayaan Sunda – Zaman Pajajaran – Jilid 2, Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung – 2005.


Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.


Yoseph Iskandar. Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa), Geger Sunten, Bandung – 2005.


Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.


Sejarah Bogor (Bagian 1), Saleh Danasasmita. Pemda DT II Bogor. Sumber : pasundan.homestead.com - Sumber : Salah Dana Sasmita, Sejarah Bogor, 24 September 2008.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar