Selasa, 13 Juli 2010

Pisuna Galuh



Pisuna Galuh pada dasarnya dipicu oleh dua masalah. Pertama disebabkan Wretikandayun memilih Mandiminyak, putra bungsunya untuk meneruskan tahtanya. Hal ini disebabkan alasan, Sempakwaja dan Jantaka dianggap tidak layak memiliki cacat tubuh. Kedua adanya penolakan keluarga Galuh terhadap Sena, pengganti Mandiminyak, yang kelahirannya merupakan hasil smarakarya Mandiminyak dengan Rabbabu, istri Sempakwaja pada pesta bulan purnama di Keraton Galuh. Hal ini sekaligus menyebabkan dendam anak-anak Rabbabu dari Sempakwaja, yakni Purbasora dan Demunawan.

Perilaku sebagaimana yang dilakukan Mandiminyak dianggap menyimpang. Hal ini sebagaimana yang dikisahkan didalam naskah Carita Parahyangan dan Siksa Kandang Karesyian. Naskah tersebut menetapkan adanya 3 katagori wanita (istri) yang dilarang untuk dinikahi, yakni (1) gadis atau wanita yang telah dilamar dan lamarannya diterima, (2) Wanita yang berasal dari Tanah Jawa, terlarang dikawin oleh pria Sunda dan larangan tersebut dilatar belakangi peristiwa Bubat, dan (3) ibu tiri yang tidak boleh dinikahi oleh pria yang ayahnya pernah menikahi wanita tersebut. (Ekadjati – 2005 : hal.196).

Jika dilihat dari sejarah keluarnya kedua naskah tersebut tentunya mengadopsi nilai-nilai yang berlaku umum di Galuh. Hal ini dapat dipahami, mengingat Sang Manikmaya, leluhur raja-raja Galuh, dianggap sebagai cikal bakal yang mengajarkan tetekon hidup dan etika-etika yang menyangkut moral, sehingga jika masyarakat Galuh mewajibkan para penguasanya mentaati etika yang berlaku maka harus dianggap kewajaran, karena keberadaan Galuh tidak lepas dari masalah tersebut.

Sena sebenarnya sangat berlainan dengan Mandiminyak, ayahnya. Ia terkenal sebagai orang alim dan sangat dihormati para tokoh agama, namun hanya karena alasan diatas ia kurang mendapat sambutan dilingkungan keluarga Galuh, sehingga terjadi pemberontakan Purbasora.

Purbasora dalam melakukan pemberontakan tentunya tidak dapat dipisahkan dari peranan Demunawan dan Bimaraksa, keduanya putra Jantaka. Secara gagah berani Bimaraksa memimpin pasukan bhayangkara yang berasal dari kerajaan Indraprahasta. Bimaraksa ahli memainkan berbagai jenis senjata dan ahli strategi perang. Peranan yang begitu besar dalam penggulingan Sena maka Purbasora mengangkatnya sebagai Senapati sekaligus Mahapatih Galuh.

Keberpihakan Bimaraksa dan Demunawan terhadap Purbasora memberikan legitimatasi pada gerakan pemberontakan Purbasora, bahwa sedang terjadi pemberontakan dari tiga orang keturunan Wretikandayun terhadap keturunan Wretikandayun lainnya yang dianggap tidak syah tetapi menguasai tahta Galuh.

Purbasora pada saat menggulingkan Sena mendapat dukungan dari pasukan Indraprahasta, kerajaan yang terletak di Cirebon Girang. Pasukan ini secara turun temurun menjadi bhayangkara pengawal raja-raja Tarumanagara. Hal ini dimulai sejak masa Maharaja Wisnuwarman, Raja Tarumanagara ke-4. Mereka sangat mahir menggunakan senjata, telah teruji keberaniannya dan ulet serta setia kepada raja.

Kedekatan Purbasora terhadap Indraprahasta dikarenakan ada pertalian perkawinan. Purbasora menikahi Citra Kirana, putri sulung Padmahariwangsa, raja Indraprahasta. Dari perkawinan ini menglahirkan seorang putra yang bernama Wijayakusuma. Dikelak kemudian hari setelah berhasil merebut Galuh, Purbasora mengangkatnya sebagai putra mahkota Galuh.

Sena sebenarnya sudah mengetahui akan ada pemberontakan ini. Untuk melakukan antisipasi ia pun telah meminta bantuan Terusbawa, raja Sunda agar mengirimkan balabantuan. Sayanya balabantuan tersebut belum tiba ketika pemberontakan Purbasora terjadi, sehingga Sena terpaksa melarikan diri ke Merapi, untuk kemudian tiba di Kalingga Utara.

Penulis Carita Parahyangan mengisahkan peristiwa ini, sebagai berikut :

· Lawasna jadi ratu tujuh taun, geus kitu Rahiangtang Mandiminyak diganti ku Sang Sena. / Lawasna jadi ratu tujuh taun, diganti lantaran dilindih ku Rahiang Purbasora. / Kajaba ti eta Sang Sena dibuang Gunung Merapi, boga anak Rakean Jambri. / Sanggeusna manehna sawawa indit ka Rahiangtang Kidul, ka Denuh, menta dibunikeun.

Gerakan politis lain yang digunakan Purbasora adalah menjaga hubungannya dengan Terusbawa, raja sunda, mertua dari anak Sena, yaitu Senjaya. Dalam kasus ini Purbasora menganggap tidak perlu berhadapan dengan raja sunda, karena ia hanya ingin menyingkirkan Sena, sehingga perlu membuka jalur diplomasi melalui Duta Sunda yang ada di Galuh.

Pasukan Sunda yang akan membantu Sena saat itu sedang menuju Purasaba Galuh, tidak mengetahui bahwa Sena telah digulingkan. Hal ini telah diketahui Purbasora. Ia memutuskan untuk bersama duta besar Sunda menyambut pasukan Sunda. Sekalipun demikian ia sudah mempersiapkan jika diplomasi ini menemui jalan buntu.

Purbasora menawarkan pasukan Sunda untuk tetap menjadi sahabat dan menjamu di Galuh. Pada akhirnya Duta Besar Sunda berhasil membujuk pasukan Sunda, dengan pertimbangan untuk mencegah pertumpahan darah yang lebih besar, serta alasan keselamatan keluarga Duta Besar itu sendiri, pada saat itu menjadi sandera di keraton Galuh dengan alasan dianggap sebagai tamu kehormatan Galuh.

Purbasora meminta Duta Sunda untuk mengantarkan surat kepada Raja Sunda, isinya mengajak untuk bersahabat dan menganggap masalah Galuh adalah urusan intern keluarga yang harus diselesaikan oleh orang-orang Galuh. Terusbawa menerima ajakan tersebut, karena selain tidak mau memulai perseteruan baru, ia telah mengetahui bahwa Sena selamat. Disisi lain, ia pun sedang sibuk menghadapi bajak laut yang semakin merajalela. Konon kabar para bajak laut tersebut didalangi Sriwijaya.

Purbasora Pejah
Sanjaya, putra Sena dan keluarga Kalingga merasa sakit hati atas peristiwa penggulingan Sena di Galuh. Sanjaya yang sangat temperamental dikabarkan segera mempersiapkan pembalasan dan secara diam-diam menggalang diplomasi dengan kekuatan lainnya. Pada masa terusirnya Sena dari Galuh, usia Sanjaya masih berumur 33 tahun.

Upaya untuk merebut kembali tahta Galuh dari Purbasora dilakukan pertama-tama dengan cara menghimpun kekuatan dan membuka jalur diplomatik dengan pihak-pihak yang dianggap berpengaruh terhadap Galuh.

Secara diam-diam Sanjaya pergi ke Denuh menemui Resiguru Wanayasa (Jantaka) dan meminta agar Resiguru mau menjadi manggala dan bertindak sebagai pelaksana keadilan. Permintaan ini menjadikan Resiguru berada pada posisi yang sulit, karena putranya, yakni Bimaraksa (Balangantrang) ada di pihak Purbasora, dilain pihak ia mengetahui bahwa Sanjaya adalah pewaris yang syah dari Mandiminyak, sehingga ia memutuskan untuk bersikap netral dan memintakan agar keluarganya yang ada di galuh tidak diganggu. Resiguru menyarankan agar Sanjaya meminta bantuan raja Sunda. Sanjaya kemudian berjanji untuk mentaati saran itu, namun meminta syarat agar Resiguru mau bersikap netral.

Dialog pertemuan ini dikisahkan oleh Penulis Carita Parahyangan, sebagai berikut :

· Carek Rakian Jambri: "Aing anak Sang Sena. Direbut kakawasaanana, dibuang ku Rahiang Purbasora."
·
· "Lamun kitu aing wajib nulungan. Ngan ulah henteu digugu jangji aing. Muga-muga ulah meunang, lamun sia ngalawan perang ka aing. Jeung deui leuwih hade sia indit ka tebeh Kulon, jugjug Tohaan di Sunda."
·
· Sadatangna ka Tohaan di Sunda, tuluy dipulung minantu ku Tohaan di Sunda.

Sanjaya dari Denuh menuju Pakuan untuk menemui Terusbawa, dan meminta bantuannya. Terusbawa sebagai raja Sunda dihadapkan pada posisi yang serba sulit. Disatu sisi Sanjaya adalah anak Sena dan cucu Mandiminyak, sahabat dalitnya, namun disisi lain ia telah memiliki hubungan baik dengan Purbasora.

Jika dianalisa dari alasan yang menyangkut posisi Terusbawa tersebut sebenarnya kurang lengkap, mengingat ada peristiwa di Sunda yang harus diperhatikan, yakni munculnya gangguan dari para bajak laut yang disponsori Sriwijaya. Mungkin masalah inilah yang paling strategis untuk dijadikan alasan yang tepat. Karena pemberantasan bajak laut pada masa itu membutuhkan sumberdaya dan kekuatan yang tidak sedikit. Disisi lain pada masa itu Galuh telah memiliki pasukan bhayangkara yang tangguh. Jika pasukan Sunda dikirimkan ke Galuh untuk membantu Sanjaya maka kekuatan di Sundapura menjadi sangat terancam. Terusbawa akhirnya hanya menyarankan agar Sanjaya lebih berhati-hati dalam melakukan tindakannya.

Kemungkinan lainnya adalah, pada masa itu Sanjaya belum menikah dengan Tejakencana, cucu dari Terusbawa, sehingga ia belum menjadi Prabu Anom Sunda. Pernikahan tersebut terjadi pasca Sanjaya membantu Terusbawa memberantas bajak laut diperairan Sunda. Hal ini terjadi sebelum Sanjaya pergi ke Galuh.

Memang di dalam RPMSJB juga terdapat beberapa keterangan tentang masalah waktu Sanjaya pada saat memberantas para bajak laut yang ada diperairan Sunda. Disatu sisi buku RPMSJB menyebutkan adanya saran Terusbawa agar Sanjaya mempelajari buku bala sarewu, untuk kemudian dijadikan petunjuk pokok di dalam cara memberantas para bajak laut. Peristiwa pemberantasan bajak laut dianggap cara melatih dan mempersiapkan Sanjaya sebelum menyerang Galuh. Namun disisi lainnya Terusbawa menyarankan Sanjaya untuk mempelajari kitab bala sarewu sebagai buku pelajaran yang mengandung pelajaran strategi perang, untuk kemudian langsung menyerang Galuh, tanpa terlebih dahulu memberantas bajak laut.

Menurut salah satu versi, buku tersebut buah karya Resiguru Manikmaya, leluhur dari Sanjaya, sehingga sangat tepat jika Terusbawa menyarankan Sanjaya untuk mempelajari buku yang dibuat oleh leluhur Sanjaya, untuk kemudian dijadikan sebagai ajaran pokok di dalam cara memberantas bajak laut. Dari keberhasilan inilah maka Sanjaya dijodohkan dengan Teja Kencana, putri Mahkota Sunda atau cucu Terusbawa.

Tentang adanya buku ‘ratuning bala sarewu’ dituliskan di dalam Carita Parahyangan, sebagai berikut :

· Ti dinya ditilar deui da ngajugjug ka Rabuyut Sawal. Carek Rabuyut sawal: "Sia teh saha?" / "Aing anak Sang Sena. Aing nanyakeun pustaka bogana Rabuyut Sawal. Eusina teh, 'retuning bala sarewu', anu ngandung hikmah pikeun jadi ratu sakti, pangwaris Sang Resi Guru." / Eta pustaka teh terus dibikeun ku Rabuyut sawal. Sanggeus kitu Rakean jambri miang ka Galuh. (Atja, 1968).

Pada masa selanjutnya diketahui, di tengah malam buta, ketika Galuh terlelap tidur, tiba tiba Sanjaya datang menyerang dan membumi hanguskan Galuh. Ditengah kobaran api, konon kabar Sanjaya sendiri yang menghadapi Purbasora, ketika itu Purbasora sudah berumur 80 tahun. Menurut naskah Nusantara III/1 diberitakan ditengah hingar bingar pertempuran terdengar teriakan : “Purbacura Pinejahan dening Sanjaya yudhakala” [Purbasora dibinisakan oleh Sanjaya waktu perang].

Didalam kemelut tersebut Sanjaya menepati janjinya. Ia tidak menghabisi keluarga lainnya, termasuk Bimaraksa, kecuali Purbasora. Selanjutnya Bimaraksa lari ke Geger Sunten, iapun membentuk kekuatan dengan cara mengumpulkan para partisan untuk merebut Galuh kembali. Dalam cerita Pantun ia kisahkan sebagai Aki Balangantrang, kakek dari Ciun Wanara.

Ketika Purbasora wafat, ia telah berumur 80 tahun. Purbasora memimpin Galuh sejak 716 sampai dengan 723 M. Dalam naskah carita parahyangan dikisahkan :

· Ti inya pulang ka Galuh Rakéyan Jambri. Tuluy diprang deung Rahiyang Purbasora. / Paéh Rahiyang Purbasora. / Lawasniya ratu tujuh tahun. Disilihan ku Rakéyan Jambri, inya Rahiyang Sanjaya. [Atja, 1968].

Sumber bacaan :
· Kebudayaan Sunda – Zaman Pajajaran – Jilid 2, Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung – 2005.
·
· Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.
·
· Yoseph Iskandar. Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa), Geger Sunten, Bandung – 2005.
·
· Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.
·
· wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Galuh
·
· Sumber lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar