Selasa, 13 Juli 2010

Tentang Kawali



Kisah perpindahan ibu kota Sunda tentu memiliki alasan yang masuk akal, sangat terkait dengan pengembangan wilayah dan keamanan negara. Ketika masa Citraganda memang diwilayah Kawali sudah lebih maju dibandingkan Pakuan, hingga pusat pemerintahan pada periode berikutnya dialihkan ke Kawali, sedangkan Pakuan menjadi kerajaan daerah.

Tradisi perpindahan ibukota terjadi pula pada masa Purnawarman di Tarumagara dan Tarusbawa pada masa awal pemerintahannya. Namun peristiwa ini ada juga yang mengaitkan dengan sifat masyarakat Sunda yang agraris - sangat theis dan percaya terhadap kekuatan alam dan penciptanya, sehingga perpindahan ibukota dari satu daerah kedaerah lainnya tak dapat dilepaskan dari adanya petunjuk sebagaimana didalam peristiwa spiritualnya.

Seringnya suatu masyarakat berpindah-pindah demikian didalam masyarakat modern sering ditafsirkan sebagai masyarakat nomaden, terutama ketika membandingkan masyarakat Sunda di Sukabumi Selatan, tepatnya di Cipta Gelar, namun yang perlu dipahami dalam masalah pemerintahan Sunda adalah latar belakang perpindahannya bukan hanya melihat sifatnya.

Pusat pemerintahan yang berpindah-pindah bagi generasi sesudahnya berakibat sulitnya melacak peninggalan masa lalu, seolah-olah ‘urang sunda’ tidak memiliki karya besar, sangat rentan untuk dinisbikan, terutama ketika daerah tersebut sudah ‘kalindih’ kegiatan ekonomi atau menjadi daerah pemukiman, seperti yang dialami situs Rancamaya dan Kota Bogor.

Kesulitan demikian berakibat pula banyaknya spekulasi tentang siapa yang pernah berkuasa didaerah tersebut. Misalnya, muncul spekulasi tentang kekuasaan Erlangga yang konon sampai menguasai tatar Sunda. Kerentatan terhadap kondisi diatas juga dapat dirasakan ketika membaca buku dalam versi lainnya, terutama klaim yang menyatakan bahwa tanah Sunda dibagian barat pernah menjadi bagian dari kekuasaan Sriwijaya.

Pertama, klaim adanya kekuasaan Erlangga diketahui setelah diketemukan Prasasti Cibadak di sungai Citatih, diperkirakan dibuat pada abad ke 15. Dalam kenyataannya Prasasti tersebut menjelaskan tentang Sri Jayabupati, raja Sunda yang ke-20. Kebetilan ia beristrikan putri Darmawangsa dari Jawa Timur, sehingga ia pun diberi gelar yang mirip dengan gelar yang diberikan kepada Erlangga.

Kedua, klaim tentang kekuasaan Sriwijaya di hubungkan dengan peninggalan purbakala yang berada di pesisir Banten. Daerah tersebut sampai saat ini masih diteliti tentang kaitannya dengan Salakanagara. Dalam sejarah Sunda, Salakanagara dianggap sebagai awal dari kerajaan yang berada di tatar Sunda, namun jika menyangkut masalah Pulasari, maka tidak dapat pula dilepaskan dari eksisteni raja Pajajaran terakhir.

Perpindahan pusat pemerintahan yang akhirnya menyulitkan pencarian jejak masa lalu, dialami juga ketika mencari jejak muasal Sumedang. Padahal Sumedang lebih akhir dibandingkan kerajaan Sunda lainnya. Sampai saat ini sangat sulit menetapkan pusat-pusat pemerintahannya, kecuali yang saat ini digunakan sebagai Museum Prabu Geusan Ulun.

Para akhli sejarah dalam menafsirkan sejarah Sunda menyimpulkan bahwa antara Sunda dengan Galuh pada tahun 1333 sampai dengan tahun 1482 masehi sangat terkait erat dengan Kawali. Pakuan pada masa itu sudah menjadi kerajaan daerah, sedangkan Galuh fungsinya dianggap sudah berakhir. Hal tersebut akibat perkawinan antara keturunan Sunda dengan Galuh. Kesamaran demikian terjadi pula ketika Sunda beribukota di Kawali. Namun Galuh dinyatakan benar-benar dinyatakan hancur pada masa penyerangan Syarif Hidayat ke Talaga.

Pada abad ke-14 di timur muncul kota baru yang makin mendesak kedudukan Galuh dan Saunggalah, yaitu Kawali yang berlokasi sangat strategis karena berada di tengah segitiga Galunggung, Saunggalah dan Galuh. Sejak abad XIV Galuh dan Sunda kerap disangkut pautkan dengan Kawali, bahkan dua orang Raja Sunda dipusarakan di Winduraja (sekarang bertetangga desa dengan Kawali).

Para penguasa Kawali
Kisah pemindahan ibukota Sunda terjadi pada masa Prabu Ajiguna Wisesa (1333 - 1340) dan berakhir pada masa kekuasaan Jayadewata, karena pada tahun 1482 masehi ia memindahkan kembali ibukotanya ke Pakuan.

Para penguasa Sunda di Kawali memiliki nama yang harum dan sangat dikenal masyarakat. Mungkin hal ini akibat dari sifat masyarakatnya Kawali dan sekitarnya yang homogen dibanding dengan masyarakat Pakuan, sehingga berita lisan pun dapat praktis diteruskan kegenerasi beikutnya. Hal yang berbeda dengan masyarakat di wilayah Pakuan cenderung heterogen dan memiliki kegiatan ekonomi yang relatif tinggi dibandingkan Kawali, sehingga agak kurang peduli, atau dapat dikatakan sangat sedikit yang peduli terhadap masalah sejarahnya dimasa lalu.

Penguasa Kawali yang terkenal, yaitu Lingga Buana, Niskala Wastu Kencana dan Jaya Dewata. Didalam sejarah lisan, ketiga raja ini kerap dikaitkan dengan masalah sejarah masa lalu di tatar Sunda. Seolah-olah Sunda tidak memiliki raja lainnya selain yang ketiga penguasa ini. Selain itu, banyak dari keturunannya yang juga menjadi tokoh dalam kisah yang lain.

Kisah ketiga raja dimaksud adakalanya pacaruk satu dengan lainnya. Masyarakat sulit membedakan, adakalanya ketiganya diistilah dengan sebutan Prabu Silihwangi. Memang ketiganya memiliki nama dan kesejarahannya yang Wangi (harum), sesuai dengan gelarnya, yakni Prabu Wangi ; Prabu Wangisutah ; dan Prabu Silihwangi.

Pusat Pemerintahan Sunda sampai tahun 1482 tetap berada di Kawali. Bisa disebut bahwa tahun 1333 - 1482 adalah Jaman Kawali. Didalam sejarah pemerintahan di Jawa Barat di sebut-sebut Kawali pernah menjadi pusat pemerintahan Sunda.

Nama Kawali diabadikan di dalam dua buah prasasti batu peninggalan Prabu Raja Wastu yang tersimpan di "Astana Gede " Kawali. Prasasti tersebut menegaskan "mangadeg di kuta Kawali" (bertahta di kota Kawali) dan keratonnya yang disebut Surawisesa dijelaskan sebagai "Dalem sipawindu hurip" yang berarti keraton yang memberikan ketenangan hidup. (***)


Sumber Bacaan :
· Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah) - Jilid 1, Edi S. Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung, Cet Kedua – 2005
· Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.

· Yoseph Iskandar. Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa), Geger Sunten, Bandung – 2005.

· Yosep Iskandar, Perang Bubat, Naskah bersambung Majalah Mangle, Bandung, 1987.

· Yus Rusyana – Puisi Geguritan Sunda : PPPB, 1980
· Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.
· Sejarah Bogor (Bagian 1), Saleh Danasasmita. Pemda DT II Bogor.

· pasundan.homestead.com - Sumber : Salah Dana Sasmita, Sejarah Bogor, 24 September 2008.
· wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Galuh, 5 April 2010.

· wikipedia.org/wiki/Kawali, tanggal 5 April 2010.

· Sumber lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar