Selasa, 13 Juli 2010

Pasca Bubat



Pasca tragedi Bubat dikisahkan dalam versi Berita Nusantara II/2. Menurut buku ini, “Prabu Hayam Wuruk tiba bersama pengiringnya dan Gajah Mada di Bubat. Kemudian ia meneliti dan memperhatikan mayat orang-orang Sunda satu demi satu. Ketika matanya tertatap sesosok mayat, ia melihat Sang Putri telah terbujur kaku, maka sangatlah luka hatinya. Ia terisak menahan tangis. Kemudian semua mayat itu dimasukan kedalam bandusa (peti mati) dan diberi tulisan yang memuat nama masing-masing”. (RPMSJB, Jilid ketiga hal, 35)

Adapun nama-nama para kesatria Sunda yang gugur di Bubat, sebagai berikut :

· RakeyanTumenggung Larang Ageng, Rakean Mantri Sohan, Yuwamantri (mantri muda), Gempong Lotong, Sang Panji Melong Sakti, Ki Panghulu Sura, Rakean Mantri Saya, Rakean Rangga Kaweni, Sang Mantri Usus, yaitu bhayangkara sang prabu, Rakeyan Senapati Yuda Sutrajali, Rakean Juru Siring, Ki Jagat Saya Patih Mandala Kidul, Sang Mantri Patih Wirayuda, Rakean Nakoda Braja yang menjadi panglima laut Sunda, Ki Nakoda Bule pemimpin Jurumudi kapal perang kerajaan. Ki Juruwastra, Ki Mantri Sabrang Keling, Ki Mantri Supit Kelingking. Lalu Sang Prabu Maharaja Linggabuana ratu Sunda dan rajaputri Dyah Pitaloka bersama pengiringnya.

Prabu Hayam Wuruk keluar dari tenda Sang Putri. Dari kejauhan nampak berkibar dua panji Majapahit dan Sunda. Ia pun menugaskan untuk menyelenggarakan upacara kematian secara kebesaran esok harinya. Ketika semua mayat dimandi sucikan dan diperabukan, tampak ribuan penduduk dari daerah sekitarnya memenuhi lapangan, menyaksikan dengan penuh haru.

Selanjutnya Hayam Wuruk memerintahkan para darmayaksa dan utusan dari setiap agama menemui Sang Bunisora (adik kandung Parbu Maharaja), untuk mengirimkan surat berisi permintaan maaf atas peristiwa Bubat. Hayam Wuruk berjanji pula, tidak akan pernah terjadi lagi Majapahit menyakiti hati Urang Sunda untuk yang kedua kalinya.

Menurut versi yang dimuat dalam Pustaka Nusantara II/2, dikisahkan, :

* · Sakweh ing amtya, tanda senapati, wadyabala, kuwandha raja, dolaya manacitta mapan Bhre Prabhu wilwatika i sedeng gering ngenes, Marga nira gering, karena kahyun ira masteri lawan Dyah Pitaloka tan siddha.


Akibat peristiwa Bubat itu Prabu Hayam Wuruk sakit lama karena menyesal. Keluarga Kerajaan Majapahit seperti ayah, ibu dan adik-adik Prabu Hayam Wuruk meyakini bahwa nama buruk Majapahit akibat peristiwa bubat. Yang menyebabkan Sri Rajasanagara sakit parah itu adalah prakarsa Sang Mangkubumi Gajah Mada. Mereka memutuskan bahwa sang Mangkubumi harus ditangkap. Tetapi rencana tersebut dapat diketahui sehingga ketika pasukan Bhayangkara kerajaan datang di puri Gajah Mada, sang mangkubumi telah lolos tanpa seorang pun mengetahui tempat persembunyiannya.

Baru beberapa tahun kemudian setelah Prabu Hayam Wuruk mempersunting puteri raja Wengker, Ratu Ayu Kusumadewi, ia memberi ampun kepada sang Mangkubumi dan mengundangnya untuk menepati jabatannya yang semua. Ada juga versi lain yang menjelaskan, bahwa akibat peristiwa Bubat ini hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada sendiri tetap menjabat Mahapatih sampai wafatnya (ada juga yang menyatakan moksa), pada tahun 1364 M.

Keteguhan Janji
Hayam Wuruk memang telah meminta maaf dan berjanji untuk tidak lagi menyerang Sunda, namun sebagai antispasi dan kewaspadaan, Mangkubumi Bunisora masih belum merasa yakin atas janji yang disampaikan Hayam Wuruk. Ia tidak mau terjadi lagi peristiwa seperti Bubat, pura-pura diajak bersaudara namun diperih pati.

Sebagai bentuk kewaspadaan, Sang Bunisora menyiagakan angkatan perang dan angkatan lautnya. Armada Sunda ditempatkan di tungtung Sunda, yaitu di kali Brebes (Cipamali) yang menjadi perbatasan Sunda dengan Majapahit. Namun Hayam Wuruk menepati janjinya dan tidak menyerang Sunda untuk yang kedua kalinya. Konon kabar, janji ini dibuktikan pula, ketika Prabu Hayam Wuruk hendak melakukan ekspedisi ke Sumatera, ia terlebih dahulu memberi kabar kepada Hyang Bunisora bahwa kapal-kapal Majapahit akan melewati perairan Sunda.

Pentaatan Raja-raja Sunda terhadap perjanjian ini juga diwariskan
untuk tidak berniat menyerang Majapahit. Hal ini dibuktikan oleh raja Sunda untuk tidak menyerang Majapahit, ketika terjadi perang Paregreg (1453-1456 M), yaitu peristiwa perebutan tahta Majapahit oleh para keturunannnya. Pada masa perang Paregreg Kawali sudah berada dibawah kekuasaan Wastu Kancana, putra Linggabuana.

Demikian pula pada masa sesudahnya. Ketika itu Majapahit dipimpin Prabu Kertabumi atau Brawijaya V, pada tahun 1478 kalah perang dari Demak dan Girindrawardana, banyak keluarga keraton Majapahit mengungsi ketimur, yakni ke Panarukan, Pasuruan, Blambangan dan Supit Udang. Gelombang para pengungsi ada juga yang menuju ke barat, ke daerah Galuh dan Kawali. Rombongan yang terkahir ini di pimpin oleh Raden Baribin, mereka disambut dengan senang hati oleh Dewa Niskala. Raden Baribin kemudian di jodohkan dengan Ratu Ayu Kirana, putri Prabu Dewa Niskala. Putri ini adiknya Banyakcatra atau Kamandaka, bupati Galuh di Pasir Luhur dan Banyakngampar bupati Galuh di Dayeuh Luhur.

Mitos atau larangan.
Pada masa tersebut, tahta Sunda di Kawali sudah diwarikan kepada Dewa Niskala. Sayangnya Dewa Niskala dianggap ‘ngarumpak dua larangan’ dengan cara menikahi seorang rara hulanjar dan istri larangan salah satu rombongan para pengungsi. Hal tersebut ditentang oleh lingkungan kerabat Galuh, termasuk oleh saudara seayah, yakni Prabu Susuktunggal (raja Sunda di Pakuan). Prabu Susuktunggal merasa bahwa keraton Surawisesa telah dinodai, sehingga Susuktunggal mengancam akan memutuskan segala hubungan kekerabatannya dengan Galuh. Mungkin ancaman demikian tidak berakibat menakutkan jika disampaikan oleh kerabat biasa, namun lain halnya jika disampaikan oleh seorang raja Sunda yang sederajat dengan Dewa Niskala, sehingga wajar jika kemudian terjadi ketegangan.

Ketegangan diantara kedua keturunan Wastu Kancana tersebut berakhir ketika para pemuka kerajaan mendesak keduanya untuk mengundurkan diri. Sebagai bentuk kompromi keduanya harus menyerahkan tahtanya kepada Jayadewata, yakni putra Dewa Niskala dan sekaligus menantu Susuktunggal. Pada masa itu Jayadewata telah menduduki jabatan sebagai Putra Mahkota Galuh, sedangkan di Sunda diangkat sebagai Prabu Anom.

Dari adanya peristiwa tersebut tentunya mengandung hikmah yang cukup besar, karena adanya peristiwa ini maka pada tahun 1482 M, kerajaan Sunda warisan Wastu Kencana tersebut bersatu kembali dibawah pemerintahan Jayadewata, untuk kemudian pusat pemerintahan Sunda beralih ke Pakuan, Jayadewata sendiri dikemudian hari lebih dikenal dengan sebutan Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi.

Terakhir
Kisah Bubat tidak hanya dituliskan oleh sejarawan Belanda, melainkan juga oleh sejarawan lokal, seperti buku Kidung Sundayana, serta sejarah lisan yang diceritakan secara turun temurun. Kisah Bubat juga menciptakan beberapa mitos, seperti tentang hulanjar, larangan laki-laki keturunan keraton Galuh untuk menikahi dengan perempuan keluarga Majapahit, atau ketiadaan nama jalan yang sesuai dengan nama negara para pelaku sejarah. Namun mitos tersebut sedikit demi mulai luntur. Perkawinan antar suku (bahkan antar bangsa dan antar agama) dianggap hal yang wajar, masalah hulu lanjar pun secara moralitas masih dilarang jika tidak sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku umum.

Suatu kisah yang dikisahkan atau dari kepandaian penulis dalam memaparkan suatu peristiwa adakalanya mampu merubah paradigma pembaca. Tak salah jika suatu buku dinyatakan sebagai sumber ilmu, karena ia mampu merubah pemikiran para pembaca. Demikian pula tentang penulisan sejarah Tragedi Bubat, banyak versi yang berkembang. Dari yang benar-benar menceritakan latar belakang suatu peristiwa, maupun tulisan yang bersifat rekaan, karena tak iklas tokohnya berlacak buruk,, termasuk untuk tujuan komersil, maka sangat bijaksana jika referensi buku dan kesejarahan yang dipelajari tidak cukup hanya dari satu sumber.

Tragedi Palagan Bubat telah menciptakan motivasi bagi para penulis pasca proklamasi untuk menciptakan keutuhan negara sebagai suatu kesatuan wilayah Indonesia yang kuat, dan dijauhkan dari sifat sentimen kesukuan. Hal ini bisa terlaksana jika satu pihak tidak merasa mendominasi sejarahnya terhadap pihak lain. Upaya yang paling radikal (mengakar) dilakukan pula ketika beberapa pihak menyatakan bahwa Tragedi Bubat itu tidak pernah ada, buku yang mengisahkan Palagan Bubat, seperti Kidung Sundayana disinyalir diciptakan untuk memecah belah bangsa Indonesia, bahkan dibuat oleh orang Belanda yang menginginkan terjadinya perpecahan dikalangan Bumi Putra.

Pendapat dan penafsiran demikian mungkin perlu dikaji kembali, karena cepat atau lambat kebenaran tersebut akan terkuak. Sejarah tidak akan pernah dapat dihapuskan dan akan di uji sesuai kemampuan setiap generasi dalam mengungkap kesejatian sejarahnya. Tak perlu juga malu untuk mengungkapkan jika kupasan sejarah tersebut dibuat dalam koridor yang ada didalam bingkai ke Indonesiaan. Karena apapun masalahnya, Indonesia sebagai suatu bangsa telah memiliki perjalanan sejarahnya. Dari semua itu kita bisa bercermin, tentang mana yang baik dan perlu dilanjutkan dan mana yang buruk dan perlu ditinggalkan. Cag Heula (***)


Sumber Bacaan :
· Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah) - Jilid 1, Edi S. Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung, Cet Kedua – 2005
· Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.
· Yoseph Iskandar. Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa), Geger Sunten, Bandung – 2005.
· Yosep Iskandar, Perang Bubat, Naskah bersambung Majalah Mangle, Bandung, 1987.
· Yus Rusyana – Puisi Geguritan Sunda : PPPB, 1980
· Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.
· Sejarah Bogor (Bagian 1), Saleh Danasasmita. Pemda DT II Bogor.
· pasundan.homestead.com - Sumber : Salah Dana Sasmita, Sejarah Bogor, 24 September 2008.
· wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Galuh, 5 April 2010.
· wikipedia.org/wiki/Kawali, tanggal 5 April 2010.
· Sumber lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar