Selasa, 13 Juli 2010

Galuh Mahardika



Tarusbawa dikenal sebagai pendiri kerajaan Sunda pasca Tarumanagara, dengan nama nobat Maharaja Tarusbawa Darmawaskita Manunggala jaya Sunda sembawa. Ia pengganti raja Tarumanagara terakhir – Linggawarman yang menikah dengan Dewi Manasih, putri Linggawarman.

Tarusbawa sebelumnya adalah raja daerah Sundapura yang berada di bawah wilayah Tarumanagara. Kota Sundapura pernah digunakan sebagai ibukota Tarumanagara pada masa Purnawarman. Demikian pula alasan Terusbawa memindahkan ibukota kembali ke Sundapura pada tahun 669 M atau tahun 591 saka Sunda, Ia memimpikan untuk mengembalikan masa kejayaan Tarumanagara ketika ibukotanya di Sundapura, namun tanpa disadari, pemindahan pusat kekuasaan Tarumanagara ke Sundapura berakibat Galuh menuntut untuk memisahkan diri dari Sunda dan mendirikan kerajaan yang Merdeka.

Pemisahan Galuh
Ketika peristiwa pemindahan Ibukota Tarumanagara ke wilayah Sundapura terjadi, Galuh berada dibawah kekuasaan Wretikandayun. Berdasarkan garis keturunan Tarumanagara ia masih termasuk kerabat Tarumanagara, keturunan Suryawarman, raja Tarumanagara ketujuh, yang menikahkan putrinya dengan Manikmaya, pendiri Kendan - cikal bakal Galuh.

Pasca pengalihan ibukota Tarumanagara ke Sundapura Wretikandayun mengirimkan surat kepada Tarusbawa, ia menjelaskan niat Galuh untuk melepaskan diri dari Sunda. Menurut Nusantara III/1, surat Wretikandayun tersebut menyatakan, sbb :

Sejak sekarang, kami yang berada diwilayah sebelah timur Citarum tidak lagi tunduk di bawah kekuasaan Tarumanagara. Jadi tidak lagi mengakui Tuan (Pakanira) sebagai ratu. Tetapi hubungan persahabatan diantara kita tidak terputus, bahkan mudah-mudahan menjadi akrab.

Karena itu daerah-daerah sebelah barat Citarum tetap berada dibawah pemerintahan tuan sedangkan daerah-daerah disebelah timur Citarum menjadi bawahan kami, dan sejak sekarang kami tidak mau lagi menyerahkan upeti kepada tuan. Kemudian janganlah hendaknya tentara kerajaan tuan menyerang kami, galuh pakuan, karena tindakan itu akan percuma. Angkatan perang kerajaan Galuh ada kira-kira tiga kali lipat dari angkatan perang Tuan dan sangat lengkap persenjataanya.

Disamping itu banyak kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang bersahabat dengan kami dan mereka sanggup memberikan bantuan perlengkapan angkatan bersenjata kami. Hal ini telah Tuan maklumi. Nanti kita rukun bersahabat sama-sama menghendaki kesejahteraan negara kita dan kecukupan kehidupan rakyat kita serta bersama-sama menjauhkan mala petaka. Semoga Yang Maha Kuasa memusnahkan siapapun yang berwatak lalim dan culas serta tidak mengenal perikemanusiaan (karunya ning citaning samaya)”. (RpmsJB – Jilid 2, hal. 44).

Keberanian Wretikandayun untuk melepaskan Galuh dari daulat Sunda tentu memiliki beberapa pertimbangan yang masuk akal. Suatu hal yang tidak mungkin jika terjadi ketika Tarumanagara masih dipimpin Purnawarman.

Pada masa pengalihan tahta Linggawarman kepada Tarusbawa memang posisi dan kondisi Tarumanagara sedang berada dititik paling rendah, terutama pasca Tarumanagara memberikan kelonggaran kepada raja-raja daerah untuk mengelola kerajaannya sendiri. Selain itu, pernah terjadi pemberontakan Cakrawarman yang menguras sumber daya Tarumanagara.

Kekuatan yang dimiliki Galuh juga disebabkan Wretikandayun telah membina hubungan baik dengan kerajaan Kalingga, bahkan terjadi pernikahan antara Dewi Parwati, putri Kertikeyasinga dan Ratu Sima dengan Mandiminyak, putra mahkota Galuh. Masalah ini yang memicu keberanian Wretikandayun untuk memerdekakan Galuh.

Disisi lain, Terusbawa dikenal sebagai raja yang senang menyelesaikan persoalannya melalui jalan diplomatik. Ia pun dikenal sebagai raja yang mencintai perdamaian. Ancaman yang dikaitkan dengan besarnya angkatan perang Galuh disebut-sebut tidak menjadi pertimbangan penting bagi Tarusbawa, karena kekuatan pasukan Tarumanagara ketika itu masih dianggap kuat diantara negara-negara lain, sehingga pada tahun 670 M Galuh resmi terpisah dari Sunda. Peristiwa ini merubah peta kekuasaan bekas Tarumanagara menjadi dua wilayah, yakni Sunda dan Galuh (Parahyangan).

Hubungan Galuh – Kalingga terbina sejak lama. Didalam RPMSJB disebutkan :”Keeratan tersebut mungkin telah ikut mengabadikan batas kekuasaan diantara kedua keluarga dengan nama Cipamali (Sungai Pamali). Dalam catatan Bujangga Manik (antara 1473 – 1478 M) masih disebut Tungtung (Ujung) Sunda.

Batas ujung timur Galuh belum terlalu berubah sejak masa kekuasaan Purnawarman, meliputi Purwalingga atau sekarang Purbalingga. Mungkin batas itu Kali Klawing salah satu cabang Kali Serayu. Sampai abad 15 M daerah Purwokerto masih termasuk kawasan Galuh seperti terbukti dari dua orang Putra Dewa Niskala yaitu Banyakcatra (Kamandaka) dan Banyakngampar yang masing-masing menjadi raja Daerah Pasir Luhur dan Dayeuh Luhur”. (***)


Sumber bacaan :
· Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah) - Jilid 1, Edi S. Ekadjati, Pustaka Jaya – Bandung, Cetakan Kedua – 2005.
· Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.
· Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.
· wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Galuh

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar