Selasa, 13 Juli 2010

Manurajasunya



Surawisesa memerintah selama 14 tahun lamanya. Pada tahun 1535 masehi, atau dua tahun setelah ia membuat prasasti sebagai Sakakala untuk ayahnya, Sri Baduga Maharaja. Surawisasa dipusarakan di Padaren.

Surawisesa begitu mencintai dan menghormati ayahnya, ia berupaya mempertahan keutuhan Sunda, namun tidak pernah ada kesempatan untuk tetap memajukannya kecuali terfokus mempertahankan dari gempuran Cirebon, Demak dan Banten. Upayanya ini ia dikenang dan dilantunkan dalam pantun serta dikisahkan dalam babad. Konon hanya Surawisesa dan Sri Baduga yang paling banyak dikisahkan petutur tradisional Sunda. Namun sejak Surawisesa purna tugas dan purna hirup, Pajajaran mengalam kemorosotan yang sulit dibangkitkan kembali. Mungkin masa tersebut adalah peralihan jaman, geus niti wancina nu mustari sangkan Pajajaran ganti ngaran, tileum heula terus ngaganti ngaran jadi Sunda anu anyar.

Surawisesa digantikan oleh Ratu Dewata, putranya yang bertahta di Pakuan pada tahun 1535 sampai tahun 1543. Ratu Dewata sangat berbeda dengan Surawisesa yang dikenal sebagai panglima perang yang perwira, perkasa dan pemberani. Ratu Dewata sangat alim dan taat kepada agama. Ia melakukan upacara Sunatan, adat khitan pra Islam yang memang telah biasa dilakukan di kalangan raja Sunda, ia pun melakukan tapa Pwah – Susu, suatu kebiasaan adat yang hanya makan buah-buahan dan minum susu dan berperilaku sebagai raja resi.

Pelanggaran Perjanjian
Pada saat Ratu Dewata bertahta perjanjian perdamaian Pajajaran dengan Cirebon masih dianggap berlaku. Ratu Dewata sangat yakin perdamaian ini akan ditaati para pihak, sehingga ia tidak mempunyai prasangka buruk akan adanya pelanggaran perjanjian yang dilakukan pihak lain. Disamping itu, Ratu Dewata lebih banyak memilih menekuni masalah keagamaan dan berpuasa dibandingkan mengurus kenegaraan.

Anggapan Ratu Dewata tentu berlainan dengan Hasanudin dari Banten, yang pada saat itu ikut menandatangani perjanjian perdamaian Pajajaran - Cirebon, Hasanudin melakukan penandatanganan perjanjian karena kepatuhannya kepada Syarif Hidayat, ayahnya. Hasanudin beranggapan bahwa perjanjian Cirebon dengan Pajajaran hanya menguntungkan Cirebon, samak sekali tidak menjamin kepentingan Banten, padahal wilayah kekuasaan Banten berbatasan langsung dengan Pajajaran.

Hasanudin secara diam-diam membentuk pasukan khusus tanpa identitas resmi yang mampu bergerak cepat. Kemampuan pasukan Banten dalam hal bergerak cepat ini telah dibuktikannya pada saat terjadi huru hara di keraton Surasowan yang memaksa bupati Banten melarikan diri ke Pajajaran, kemudian menjadikan Hasanudin sebagai bupati Banten dibawah vassal Cirebon. Pasukan ini oleh Belanda dinamakan rover karena dianggap sering mengganggu ketertiban, sedangkan penulis Carita Parahyangan menyebutnya "tambuh sangkane" (tidak dikenal asal-usulnya).

Ratu Dewata masih beruntung karena memiliki para perwira yang pernah mendampingi ayahnya dalam 15 kali pertempuran. Sebagai veteran perang, para perwira ini masih mampu menghadapi sergapan musuh. Disamping itu, ketangguhan benteng Pakuan peninggalan Sri Baduga menyebabkan serangan serangan Banten tidak mampu menembus Pakuan.

Didalam prasasti batu tulis dituliskan, bahwa Sri Baduga membuat benteng Pakuan yang kokoh. Hal yang sama disebutkan didalam naskah Pustaka Nagara Kretabhuni I/2 dengan istilah Amateguh Kadatwan (memperteguh kedatuan) sejalan dengan maksud "membuat parit" (memperteguh pertahanan) Pakuan, bukan saja karena kata Pakuan mempunyai arti pokok keraton atau kedatuan, melainkan kata amateguh menunjukkan bahwa kata kedatuan dalam hal ini kota raja. Jadi sama dengan Pakuan dalam arti ibukota.

Posisi Pakuan sangat strategis untuk pertahanan, karena berada pada permukaan yang tinggi atau Lemah Duwur – Lemah Luhur, Van Riebeeck menyebutnya "bovenvlakte". Pada posisi ini pasukan pengawal keraton sangat leluasa untuk memantau sekelilingi luar istana, sehingga mempermudah untuk mengetahui manuver musuh.

Pasir Muara di Cibungbulang merupakan contoh bagaimana bukit rendah yang dikelilingi 3 batang sungai pernah dijadikan pemukiman lemah duwur sejak beberapa ratus tahun sebelum masehi. Lokasi Pakuan merupakan lahan Lemah Duwur yang satu sisinya terbuka menghadap Gunung Pangrango. Tebing Ciliwung, Cisadane dan Cipaku merupakan pelindung alamiah. Tipe Lemah Duwur biasanya dipilih masyarakat dengan latar belakang kebudayaan Huma (Ladang). Kota-kota seperti ini adalah Bogor, Sukabumi dan Cianjur, dibangun dengan konsep berdasarkan pengembangan Perkebunan.

Lainnya halnya dengan yang disebut dengan Garuda Ngupuk, biasanya digunakan masyarakat yang berlatar belakang Kebudayaan Sawah. Mereka menganggap bahwa lahan yang ideal untuk pusat pemerintahan adalah lahan yang datar, luas, dialiri sungai dan berlindung di balik pegunungan. Kota demikian seperti Garut, Bandung dan Tasikmalaya.

Pasukan Hasanudin setelah gagal merebut benteng kota, bergerak ke utara dan menghancurkan pusat-pusat keagamaan lemah larangan (Kabuyutan) di Sumedang, Ciranjang dan Jayagiri, Daerah tersebut pada masa Sri Baduga merupakan desa Kawikwan yang dilindungi oleh negara, mungkin juga Hasanudin menyerang ketiga wilayah ini bertujuan menghancur- kan ‘dangiang kerajaan’, atau untuk mengalihkan perhatian pasukan Sunda agar keluar menyerang di luar Benteng.

Penulis Carita Parahyangan menyebutkan adanya penyerangan dan pembunuhan para pandita, sebagai berikut :

*


Hana pandita sakti diruksak, pandita di Sumedeng. Sang panadita di Ciranjang pinejahan tanpa dosa, katiban ku tapak kikir. / Sang pandita di Jayagiri Iinabuhaken ring sagara. / Hana sang pandita sakti hanteu dosana.


Ngarajaresi di jaman Susah
Sikap Ratu Dewata yang alim dan rajin bertapa, menurut norma kehidupan jaman itu tidak tepat karena raja harus "memerintah dengan baik". Tapa-brata seperti yang dilakukannya itu hanya boleh dilakukan setelah turun tahta dan menempuh kehidupan Manurajasunya seperti yang telah dilakukan oleh Wasitu Kancana.

Kepribadian Ratu Dewata yang ngarajaresi di masa perang mungkin dianggap kurang tepat, bahkan ada yang berpendapat, bahwa hal tersebut dilakukan karena ia tidak mampu menghadapi kenyataan. Penulis carita parahyangan kemudian berkomentar pendek ‘Samangkana ta precinta’ (begitulah jaman susah).

Perilaku Ratu Dewata di sindir oleh penulis Carita Parahyangan. “Nya iyatnayatna sang Kawuri, haywa ta sira kabalik pupuasaan” (ya berhati-hatilah orang-orang yang kemudian, janganlah engkau kalah perang karena rajin puasa). Memang seolah-olah ada sifat yang ambigu dalam menyikapi perilaku Ratu Dewata dengan raja-raja sebelumnya yang menjadi raja resi, seperti Sang Bunisora yang diberinya gelar Satmata.

Menurut Kropak 630, tingkatan batin manusia dalam keagamaan adalah acara, adigama, gurugama, tuhagama, satmata, suraloka, dan nirawerah. Satmata adalah tingkatan kelima dan tahap tertinggi bagi seseorang yang masih ingin mencampuri urusan duniawi. Setelah mencapai tingkat keenam (suraloka), orang sudah sinis terhadap kehidupan umum. Pada tingkatan ketujuh (nirawerah) padamlah segala hasrat dan nafsu, seluruh hidupnya pasrah kepada Hiyang Batara Tunggal. Pada saat itu mungkin Ratu Dewata sudah mencapai tingkat diatas Satmata sehingga tidak menjalankan fungsinya sebagai raja Sunda. Padahal fungsinya sebagai raja tentu sangat berhubungan dengan masalah keduniaan.

Suatu hal yang kerap tidak terperhatikan oleh para penulis sejarah Sunda yakni mencari kondisi kekinian (semangat jaman) pada masa pemerintahan Ratu Dewata. Jika mencermati catatan Bujangga Manik yang diperkirakan menuliskan perjalanannya pada akhir tahun 1400 atau awal 1500 an. Dokumen tersebut saat ini disimpan di Perpustakaan Bodley, Oxford sejak tahun 1627, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada masa itu memang semangat keagamaan sudah mewarnai kisah perjalanan hidup kerabat keraton, bahkan Bujangga Manik pun diperkirakan seorang rahib. Mungkin kondisi pada waktu yang membentuk Ratu Dewata untuk lebih menekuni masalah keagamaan dibandingkan masalah kenegaraan.

Ratu Dewata dikesankan oleh Penulis Carita Parahyangan, sebagai berikut :

*


Prebu Ratudé wata,
*

inya nu surup ka Sawah-tampian-dalem.
*

Lumaku ngarajaresi.
*

Tapa Pwah Susu.
*

Sumbé lé han niat tinja bresih suci wasah.
*

Disunat ka tukangna, jati Sunda teka.
*

Datang na bancana musuh ganal,
*

tambuh sangkané.
*

Prangrang di burwan ageung.
*

Pejah Tohaan Saréndét deung Tohaan Ratu Sanghiyang.
*

Hana pandita sakti diruksak,
*

pandita di Sumedeng.
*

Sang panadita di Ciranjang
*

pinejahan tanpa dosa,
*

katiban ku tapak kikir.
*

Sang pandita di Jayagiri
*

Iinabuhaken ring sagara.
*

Hana sang pandita sakti hanteu dosana.
*

Munding Rahiyang ngaraniya
*

linabuhaken ring sagara
*

tan keneng pati, hurip muwah,
*

moksa tanpa tinggal raga
*

teka ring duniya.
*

Sinaguhniya ngaraniya Hiyang Kalingan.
*

Nya iyatnajatna sang kawuri,
*

haywa ta sira kabalik pupuasaan.
*

Samangkana ta pr écinta.
*

Prebu Ratudé wata,
*

lawasniya ratu dalapan tahun,
*

kasalapan panteg hanca dina bwana.

Ratu Dewata Wafat pada tahun 1543, dipusarakan disawah tampian dalem. Kemudian digantikan oleh Ratu Sakti, putranya yang memiliki sifat yang berbeda dengan ayahnya. Masa pemerintahan Ratu Sakti sering juga disebutkan dengan istilah Masa Kaliyuga. (*)

Sumber Bacaan :

Sejarah Bogor – bagian 1, Saleh Danasasmita. Pemda DT II Bogor – 1983 – di copy dari pasundan.homestead.com

Prabu Siliwangi atau Ratu Purana Prebu Guru Dewataprana Sri Baduga Maharaja Taru Haji Di Pakwan Pajajaran 1474 – 1513, Amir Sutaarga, Pustaka Jaya, Bandung - 1966.

Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah) - Jilid 1, Edi S. Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung, Cet Kedua – 2005

Kebudayaan Sunda – Zaman Pajajaran – Jilid 2, Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung – 2005.

Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.

Yoseph Iskandar. Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa), Geger Sunten, Bandung – 2005.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar