Selasa, 13 Juli 2010

Lokasi Pakuan Pajajaran



Pakuan sebagai ibukota Sunda dicacat oleh Tom Peres (1513 M) di dalam “The Suma Oriantal”, ia menyebutkan bahwa ibukota kerajaan Sunda disebut dayo (dayeuh) itu terletak sejauh sejauh dua hari perjalanan dari Kalapa (Jakarta). Menurut Laporan VOC, perjalanan dari bekas benteng Pakuan ke muara Ciliwung tempat benteng VOC memakan waktu dua hari.

Amir Sutaarga (1966) menguraikan tentang asal nama Pakuan yang merujuk pada pendapat beberapa ahli, seperti Holle, Purbacarakan dan Tendam. Menurut Holle arti kata Pakwa Pajajaran berasal dari kata paku (pohon paku, pakis), sehingga Pakuan Pajajaran akan berarti : “tempat yang ada jajaran pohon-pohon paku”, sedangkan menurut Prof. Poerbacaraka, kata Pakwan sama dengan ‘hof’ (istana, dalam bahasa jawa ‘pakuwon’ artinya tempat kediaman) yang berasal dari kata ‘kuwu’ Pakuwuan (bahasa kawi klasik Pakuwwan) dengan lidah urang sunda Pakuan akhiranya menjadi Pakwan.

Penafsiran lain dari karangan Tendam, yang menyatakan, bahwa kata paku harus dihubungkan dengan lingga kerajaan yang ada disebelah prasasti Batutulis. Paku dalam arti lingga sesuai dengan penafiran jamannya ketika itu berarti sumbu jagat dan hubungannya memang erat dengan kedudukan raja masa itu, yakni pusat jagat, pusat kosmos di dunia, yang mewakili dewa tertinggi yang jadi pusat jagat. Tendam secara tegas membedakan antara ‘pakwan’ dan ‘kadatwan’. Pakwan berarti ibukota pusat kerajaan yang ada paku-nya, lingganya, sedangkan kadatwan ialah keratonnya. Dan memang Kadatwan di Pakuan memiliki nama, yakni Sri Bima Untarayana Madura Suradipati. Dengan alasan ini maka istilah yang dikemukakan oleh Purbacaraka menjadi tidak lagi dapat digunakan.

Nama keraton di Pakuan ditemukan pula didalam berita kropak 406 atau Fragmen Carita Parahyangan. Naskah dimaksud menyebutkan :

Di inya urut kadtwan, ku Bujangga Sedamanah ngaran Sri Kadatwan Bima – Punta – Narayana – Madura – Suradipati. Anggeus ta tuluy diprebokta ku Maharaja Tarusbawa deung Bujangga Sedamanah. / Disiar kahulu Cipakancilan, katimu ku Bagawat Sunda Mayajati, ku Bujangga Sedamanah di baan ka hareupeun Maharaja Tarusbawa. (Di sanalah bekas keraton yang oleh Bujangga Sedamanah diberi nama Sri Kedatuan Bima – Punta – Narayana – Madura – Suradipati. Setelah selesai dibangun lalu diberkati oleh Maharaja Tarusbawa dan Bujangga Sedamanah. / Dicari ke hulu Cipakancilan, ditemukan disana Bagawat Sunda Majayati ; oleh Bujangga Sedamanah di bawa ke hadapan Maharaja Tarusbawa).


Dari kedua data tersebut dapat disimpulkan bahwa dari masa Tarusbawa sampai dengan abad ke 16 nama Pakuan sudah digunakan untuk menyebutkan nama ibukota Sunda.

Lokasi keraton Pakuan terletak pada lahan lemah duwur – diatas bukit yang diapit oleh tiga batang sungai berlereng curam, yakni Cisadane, Ciliwung (Cihaliwung) dan Cipaku (anak Cisadane). Ditengahnya mengalir Cipakancilan yang ke bagian hulu sungainya bernama Ciawi. Pakuan terlindung oleh lereng terjal pada ketiga sisinya, namun disisi tenggara kota berbatasan dengan tanah datar dan terdapat benteng (kuta) yang paling besar, pada bagian luar benteng terdapat parit yang merupakan bentuk negatif dari benteng tersebut. Tanah galian parit itulah yang diperkirakan untuk dijadikan bahan pembangunan benteng.

Lokasi Pakuan didalam Carita Pantun disebutkan :

Guru sekar anu ngarana Aki Santarupa / anu di Taman Milakancana / sakalereun ginung anu tujuh / beulah wetan ti karaton / sagigireun rada jauh tonggoheunnana / Leuwi Kipataheunana / anu aya di talaga panjang / Talaga Kamala Rena Wijaya (guru sekar yang bernama Aki Santapura / yang ada di Taman Milakancana / sebelah utara gintung yang tujuh / sebelah timur dari keraton / sebelah hulu agak jauh diatasnya / Leuwi Kipatahunan / yang ada di telaga panjang / Telaga Kemala Rena Wijaya).


Pantun itu menginspitrasi Amir Sutaarga untuk menguraikan tentang Pakuan Pajajaran. Konon kabar dihias dengan kraton Sri Bima, telaga panjang Sang Hiyang Talaga Rena Mahawijaya atau Sanghyang Kamala Rena Wijaya, dengan taman Milakancana dekat hutan Songgong tempat punden pusat pemujaan penduduk Pakuan Pajajaran.

Kearah Pakuan Pajajaran dibuat jalan-jalan besar yang dapat dilalui gerobak-gerobak dan beberapa kilometer. ke utara Muaraberes di kali Ciliwung masih ada bekas-bekas dermaga, dan juga di Ciampea, disebelah barat dari Pakuan, di Kali Cisadane semestinya akan dapat ditemukan bekas-bekas peninggalan dermaga atau sistim pertahanan, karena kedua tempat itu adalah batas sungai yang dapat dilayari sampai ke muara Laut Jawa, pintu gerbang menuju pedalaman.

Dari Pakuan ada sebuah jalan yang dapat melalui Cileungsi atau Cibarusa, Warunggede, Tanjungpura, Karawang, Cikao, Purwa karta, Sagalaherang, terus ske Sumedang, Tomo, Sindangkasih, Rajagaluh, Talaga Kawali dan ke pusat kerajaan Galuh Pakuan disekitar Ciamis dan Bojong Galuh. (Mungkin semacam jalan tol).

Berita-berita VOC
Laporan tertulis pertama mengenai lokasi Pakuan diperoleh dari catatan perjalan ekspedisi pasukan VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie/Perserikatan Kumpeni Hindia Timur) yang oleh bangsa kita lumrah disebut Kumpeni. KarenaInggris pun memiliki perserikatan yang serupa dengan nama EIC (East India Company), maka VOC sering disebut Kumpeni Belanda dan EIC disebut Kumpeni Inggris.

Setelah mencapai persetujuan dengan Cirebon (1681), Kumpeni Belanda menandatangani persetujuan dengan Banten (1684). Dalam persetujuan itu ditetapkan Cisadane menjadi batas kedua belah pihak.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai lokasi bekas istana Kerajaan Pajajaran, VOC mengirimkan tiga tim ekspedisi, masing-masing dipimpin oleh Scipio (1687) ; Adolf Winkler (1690) dan Abraham van Riebeeck (1703, 1704, 1709).

Scipio pada tahun 1687 memiliki dua catatan penting dari ekspedisinya, yakni perjalanan antara Parung Angsana (Tanah Baru) menuju Cipaku dengan melalui Tajur, kira-kira lokasi Pabrik Unitex sekarang. Scipio mencatat : Jalan dan lahan antara Parung Angsana dengan Cipaku adalah lahan yang bersih dan di sana banyak sekali pohon buah-buahan, tampaknya pernah dihuni. Lukisan jalan setelah ia melintasi Ciliwung. Ia mencatat Melewati dua buah jalan dengan pohon buah-buahan yang berderet lurus dan 3 buah runtuhan parit.

Scipio pada tanggal 1 September 1687 M memperoleh keterangan dari anak buahnya, bahwa semua itu peninggalan dari Raja Pajajaran. Dari perjalanannya disimpulkan bahwa ada jejak Pajajaran yang masih bisa memberikan kesan wajah kerajaan, terutama Situs Batutulis.

Penemuan Scipio segera dilaporkan oleh Gubernur Jenderal Joanes Camphuijs kepada atasannya di Belanda. Dalam laporan yang ditulis tanggal 23 Desember 1687, ia memberitakan bahwa menurut kepercayaan penduduk, dat hetselve paleijs en specialijck de verheven zitplaets van den getal tijgers bewaakt ent bewaart wort (bahwa istana tersebut terutama sekali tempat duduk yang ditinggikan untuk raja Jawa [maksudnya Sunda Pajajaran] sekarang masih berkabut dan dijaga serta dirawat oleh sejumlah besar harimau). Laporan tersebut juga dikaitkan dengan kisah anak buahnya yang mengalami patah tulang leher setelah diterkam harimau, laporan tersebut ia terima pada tanggal 31 Agustus 1687 malem hari.

Penduduk Parung Angsana menghubungkan seorang anggota ekspedisi yang diterkam harimau di dekat Cisadane pada malam tanggal 28 Agustus 1687. Diperkirakan Situs Batutulis pernah menjadi sarang harimau penjaga ‘singgasana raja Pajajaran’. Penulis RPMSJB menafsirkan, bahwa laporan dan peristiwa ini yang akhirnya memunculkan mitos tentang hubungan Pajajaran yang sirna dengan keberadaan harimau. Selanjutnya disebutkan pula bahwa raja Pajajaran tilem, sedangkan prajuritna berubah wujud menjadi harimau.

Laporan Scipio tersebut menggugah para pimpinan Kumpeni Belanda. Tiga tahun kemudian atau pada tahun 1690 masehi dibentuk kembali team ekspedisi terdiri dari 16 orang kulit putih dan 26 orang Makasar serta seorang ahli ukur. Ekspedisi tersebut dipimpin oleh Kapiten Winkler.

Winkler dari hasil ekspedisi melaporkan perjalannya seperti Scipio yang bertolak dari Kedung Halang lewat Parung Angsana (Tanah Baru) lalu ke selatan, melewati jalan besar, Scipio menyebutnya ‘twee lanen’. Winkler menyebutkan jalan tersebut sejajar dengan aliran Ciliwung lalu membentuk siku-siku, namun hanya mencatat satu jalan. Scipio menganggap jalan yang berbelok tajam ini sebagai dua jalan yang bertemu.

Setelah melewati sungai Jambuluwuk (Cibalok) dan melintasi parit Pakuan yang dalam dan berdinding tegak (dediepe dwarsgragt van Pakowang) yang tepinya membentang ke arah Ciliwung dan sampai ke jalan menuju arah tenggara 20 menit setelah arca. Sepuluh menit kemudian (pukul 10.54) sampai di lokasi kampung Tajur Agung (waktu itu sudah tidak ada). Satu menit kemudian, ia sampai ke pangkal jalan durian yang panjangnya hanya 2 menit perjalanan dengan berkuda santai.

Bila kembali ke catatan Scipio yang mengatakan bahwa jalan dan lahan antara Parung Angsana dengan Cipaku itu bersih dan di mana-mana penuh dengan pohon buah-buhan, maka dapat disimpulkan bahwa kompleks Unitex itu pada jaman Pajajaran merupakan Kebun Kerajaan. Tajur adalah kata Sunda kuno yang berarti tanam, tanaman atau kebun. Tajur Agung sama artinya dengan Kebon Gede atau Kebun Raya. Sebagai kebun kerajaan.

Tajur Agung menjadi tempat bercengkerama keluarga kerajaan. Karena itu pula penggal jalan pada bagian ini ditanami pohon durian pada kedua sisinya. Dari Tajur Agung Winkler menuju ke daerah Batutulis menempuh jalan yang kelak pada tahun 1709 dilalui Van Riebeeck dari arah berlawanan. Jalan ini menuju ke gerbang kota (lokasi dekat pabrik paku Tulus Rejo, sekarang). Di situlah letak Kampung Lawang Gintung pertama sebelum pindah ke Sekip dan kemudian lokasi sekarang (bernama tetap Lawang Gintung). Jadi gerbang Pakuan pada sisi ini ada pada penggal jalan di Bantar Peuteuy (depan kompleks perumahan LIPI). Dulu di sana ada pohon Gintung.

Di sekitar Batutulis Winkler menemukan lantai atau jalan berbatu yang sangat rapi. Menurut penjelasan para pengantarnya, di situlah letak istana kerajaan (het conincklijke huijs soude daerontrent gestaen hebben). Setelah diukur, lantai itu membentang ke arah paseban tua. Di sana ditemukan 7 batang pohon beringin.

Di dekat jalan tersebut Winkler menemukan sebuah batu besar yang dibentuk secara indah. Jalan berbatu itu terletak sebelum tiba di situs Bautulis, dan karena dari batu bertulis perjalanan dilanjutkan ke tempat arca (Purwa Galih), maka lokasi jalan itu harus terletak di bagian utara tempat batu bertulis (prasasti). Antara jalan berbatu dengan batu besar yang indah dihubungkan oleh Gang Amil.

Lahan di bagian utara Gang Amil ini bersambung dengan Bale Kambang (rumah terapung), yang biasanya digunakan untuk bercengkrama raja. Contoh Bale kambang yang masih utuh adalah seperti yang terdapat di bekas Pusat Kerajaan Klungkung di Bali. Dengan indikasi tersebut, lokasi keraton Pajajaran mesti terletak pada lahan yang dibatasi Jl. Batutulis (sisi barat), Gang Amil (sisi selatan), bekas parit yang sekarang dijadikan perumahan (sisi timur) dan benteng batu yang ditemukan Scipio sebelum sampai di tempat prasasti (sisi utara).

Balekambang terletak di sebelah utara (luar) benteng itu. Pohon beringinnya mestinya berada dekat gerbang Pakuan di lokasi jembatan Bondongan sekarang. Dari Gang Amil, Winkler memasuki tempat batu bertulis. Ia memberitakan bahwa Istana Pakuan itu dikeliligi oleh dinding dan di dalamnya ada sebuah batu berisi tulisan sebanyak 8½ baris, disebutkan demikian karena baris ke-9 hanya berisi 6 huruf dan sepasang tanda penutup. Winkler menyebut kedua batu itu stond (berdiri). Jadi setelah terlantar selama kira-kira 110 tahun, sejak Pajajaran burak bubar/hancur oleh pasukan Banten pada tahun 1579, batu-batu itu masih berdiri dan masih tetap pada posisi semula.

Winkler dari tempat prasasti menuju ke tempat arca, pada penduduk menyebutnya Purwakalih, pada tahun 1911 Pleyte masih mencatat nama Purwa Galih. Di sana terdapat 3 buah patung yang menurut informan Pleyte adalah patung Purwa Galih, Gelap Nyawang dan Kidang Pananjung. Nama trio ini terdapat dalam Babad Pajajaran yang ditulis di Sumedang (1816) pada masa bupati Pangeran Kornel, kemudian pada tahun 1862 disadur dalam bentuk pupuh. Penyadur naskah babad mengetahui beberapa ciri bekas pusat kerajaan seperti juga penduduk Parung Angsana dalam tahun 1687 mengetahui hubungan antara Kabuyutan Batutulis dengan kerajaan Pajajaran dan Prabu Siliwangi. Menurut babad Pajajaran, Pohon Campaka Warna terletak tidak jauh dari alun-alun.

Dari Naskah Kuna
Dalam kropak, tulisan pada lontar atau daun nipah yang diberi nomor 406 di Mueseum Pusat terdapat petunjuk yang mengarah kepada lokasi Pakuan. Kropak 406 sebagian telah diterbitkan khusus dengan nama Carita Parahiyangan.

Dalam bagian yang belum diterbitkan (biasa disebut fragmen K 406) terdapat keterangan mengenai kisah pendirian keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati. :

Di inya urut kadatwan, ku Bujangga Sedamanah ngaran Sri Kadatwan Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Anggeus ta tuluy diprebolta ku Maharaja Tarusbawa jeung Bujangga Sedamanah. Disiar ka hulu Cipakancilan. Katimu Bagawat Sunda Mayajati. Ku Bujangga Sedamanah dibaan ka hareupeun Maharaja Tarusbawa.


(Di sanalah bekas keraton yang oleh Bujangga Sedamanah diberi nama Sri Kadatuan Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Setelah selesai (dibangun) lalu diberkati oleh Maharaja Tarusbawa dan Bujangga Sedamanah. dicari ke hulu Cipakancilan. Ditemukanlah Bagawat Sunda Majayati. Oleh Bujangga Sedamanah dibawa ke hadapan Maharaja Tarusbawa).

Dari sumber kuno tersebut dapat diketahui, bahwa letak keraton tidak akan terlalu jauh dari hulu Cipakancilan. Hulu Cipakancilan terletak dekat lokasi kampung Lawang Gintung yang sekarang, sebab ke bagian hulu sungai ini disebut Ciawi. Dari naskah itu pula kita mengetahui bahwa sejak jaman Pajajaran sungai itu sudah bernama Cipakancilan. Juru pantun kemudian menerjemahkan menjadi Cipeucang, yang artinya sama (Peucang = Kancil).

Hasil Penetian
Prasasti Batutulis sudah mulai diteliti sejak tahun 1806 dengan pembuatan cetakan tangan untuk Universitas Leiden (Belanda). Upaya pembacaan pertama dilakukan oleh Friederich tahun 1853. Sampai tahun 1921 telah ada 4 orang ahli yang meneliti isinya. Akan tetapi, hanya C.M. Pleyte yang mencurahkan pada lokasi Pakuan, yang lain hanya mendalami isi prasasti itu.

Hasil penelitian Pleyte yang dilakukan pada tahun 1903 dipublikasikan pada tahun 1911. Dalam tulisannya ia menyebutkan angka tahun yang tertera pada batu tulis (Het Jaartal op en Batoe-Toelis nabij Buitenzorg). Pleyte menjelaskan :

“Waar alle legenden, zoowel als de meer geloofwaardige historische berichten, het huidige dorpje Batoe-Toelis, als plaats waar eenmal Padjadjarans koningsburcht stond, aanwijzen, kwam het er aleen nog op aan. Naar eenige preciseering in deze te trachten” (Dalam hal legenda-legenda dan berita-berita sejarah yang lebih dipercayai menunjuk kampung Batutulis yang sekarang sebagai tempat puri kerajaan Pajajaran, masalah yang timbul tinggalah menelusuri letaknya yang tepat).


Sedikit kotradiksi dari Pleyte adalah pertama ia menunjuk kampung Batutulis sebagai lokasi keraton, akan tetapi kemudian ia meluaskan lingkaran lokasinya meliputi seluruh wilayah Kelurahan Batutulis yang sekarang. Pleyte mengidentikkan puri dengan kota kerajaan dan kadatuan Sri Bima Narayana Madura Suradipati dengan Pakuan sebagai kota.

Babad Pajajaran melukiskan bahwa Pakuan terbagi atas Dalem Kitha (Jero kuta) dan Jawi Kitha (Luar kuta). Pengertian yang tepat adalah kota dalam dan kota luar. Pleyte masih menemukan benteng tanah di daerah Jero Kuta yang membentang ke arah Sukasari pada pertemuan Jalan Siliwangi dengan Jalan Batutulis.

Peneliti lain seperti Ten Dam menduga, letak keraton tersebut terletak di dekat kampung Lawang Gintung, bekas Asrama Zeni Angkatan Darat. Suhamir dan Salmun bahkan menunjuk pada lokasi Istana Bogor yang sekarang. Namun pendapat Suhamir dan Salmun kurang ditunjang oleh data kepurbakalaan dan sumber sejarah. Dugaannya hanya didasarkan pada anggapan bahwa Leuwi Sipatahunan yang termashur dalam lakon-lakon lama itu terletak pada alur Ciliwung dalam Kebun Raya Bogor. Menurut kisah klasih, leuwi (lubuk) itu biasa dipakai bermandi-mandi oleh puteri-puteri penghuni istana. Lalu ditarik logika bahwa letak istana tentu tak jauh dari Leuwi Sipatahunan itu.

Pantun Bogor mengarah pada lokasi bekas Asrama Resimen Cakrabirawa (Kesatrian) dekat perbatasan kota. Daerah itu dikatakan bekas Tamansari kerajaan bernama Mila Kencana. Namun hal ini juga kurang ditunjang sumber sejarah yang lebih tua. Selain itu, lokasinya terlalu berdekatan dengan kuta yang kondisi topografinya merupakan titik paling lemah untuk pertahanan Kota Pakuan.

Kota Pakuan dikelilingi oleh benteng alam berupa tebing-tebing sungai yang terjal di ketiga sisinya. Hanya bagian tenggara batas kota tersebut berlahan datar. Pada bagian ini pula ditemukan sisa benteng kota yang paling besar. Penduduk Lawang Gintung yang diwawancara Pleyte menyebut sisa benteng ini Kuta Maneuh.

Sebenarnya hampir semua peneliti berpedoman pada laporan Kapiten Winkler yang berkunjung ke Batutulis pada tanggal 14 Juni 1690. Kunci laporan Winkler tidak pada sebuah hoff (istana) yang digunakan untuk situs prasasti, melainkan pada kata paseban dengan 7 batang beringin pada lokasi Gang Amil. Sebelum diperbaiki, Gang Amil ini memang bernuansa kuno dan pada pinggir-pinggirnya banyak ditemukan batu-batu bekas balay yang lama.

Penelitian lanjutan membuktian bahwa benteng Kota Pakuan meliputi daerah Lawang Saketeng yang pernah dipertanyakan Pleyte. Menurut Coolsma, Lawang Saketeng berarti porte brisee, bewaakte in-en uitgang (pintu gerbang lipat yang dijaga dalam dan luarnya). Kampung Lawang Saketeng tidak terletak tepat pada bekas lokasi gerbang.

Benteng pada tempat ini terletak pada tepi Kampung Cincaw yang menurun terjal ke ujung lembah Cipakancilan, kemudian bersambung dengan tebing Gang Beton di sebelah Bioskop Rangga Gading. Setelah menyilang di jalan Suryakencana, membelok ke tenggara sejajar dengan jalan tersebut. Deretan pertokoan antara jalan Suryakencana dengan jalan Roda di bagian in sampai ke Gardu Tinggi, bekas pondasi benteng. Selanjutnya benteng tersebut mengikuti puncak lembah Ciliwung.

Deretan kios dekat simpangan jalan Siliwangi – jalan Batutulis juga didirikan pada bekas fondasi benteng. Di bagian ini benteng tersebut bertemu dengan benteng Kota Dalam yang membentang sampai ke Jero Kuta Wetan dan Dereded. Benteng luar berlanjut sepanjang puncak lereng Ciliwung melewati kompleks perkantoran PAM, lalu menyiang jalan Raya Pajajaran, pada perbatasan kota, membelok lurus ke barat daya menembus jalan Siliwangi, di sini dahulu terdapat gerbang, terus memanjang sampai Kampung Lawang Gintung.

Di Kampung Lawang Gintung, benteng ini bersambung dengan benteng alam yaitu puncak tebing Cipaku yang curam sampai di lokasi Stasiun Kereta Api Batutulis. Dari sini, batas Kota Pakuan membentang sepanjang jalur rel kereta api sampai di tebing Cipakancilan setelah melewati lokasi Jembatan Bondongan. Tebing Cipakancilan memisahkan ujung benteng dengan benteng pada tebing Kampung Cincaw.(***)


Sumber Bacaan :

Prabu Siliwangi atau Ratu Purana Prebu Guru Dewataprana Sri Baduga Maharaja Taru Haji Di Pakwan Pajajaran 1474 – 1513, Amir Sutaarga, Pustaka Jaya, Bandung - 1966.


Sejarah Bogor (Bagian 1), Saleh Danasasmita. Pemda DT II Bogor, - 1983.

Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.


Yoseph Iskandar. Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa), Geger Sunten, Bandung – 2005.


Foto :wikipedia.org/wiki/Berkas:Pakuanpajajaran.jpg


Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar