Selasa, 13 Juli 2010

Pemisahan Cirebon



Perkawinan Sang Pamanahrasa (Sri Baduga Maharaja) dengan Nyi Mas Subanglarang, putri dari Ki Gedeng Tapa, memperoleh putera dan putri, yakni Walangsungsang, Rara Santang dan Rajasangara. Sang Pamanah Rasa mempersunting Nyi Mas Subanglarang setelah terlebih dahulu mengalahkan Raja Sakti Mandraguna dari wilayah Cirebon, yakni Amuk Murugul. Dengan demikian, baik dari Sirsilah ibu maupun ayah, Walangsungsang masih teureuh Niskala Wastu Kancana.

Subanglarang sebelum dipersunting Sang Pamanahrasa terlebih dahulu telah memeluk agama Islam. Ia alumnus Pesantren Quro yang didirikan oleh Syeh Hasanudin atau Syeh Quro (bukan Sultan Hasanudin), Syeh Hasanudin masuk ke wilayah ini pada masa Laksamana Cheng Ho. Menjadi tidak mengherankan jika putra-putrinya dari Subanglarang memeluk agama Islam dan direstui oleh Sang Pamanahrasa.

Bahwa memang ada cerita tentang keluarnya ketiga bersaudara tersebut keluar lingkungan istana Pakuan disebabkan perselisihan tahta antara Subanglarang dengan Kentring Manik Mayangsunda. Namun ada versi lain yang menceritakan bahwa keluarnya Walangsungsang dari lingkungan Pakuan bersama adiknya, Nyi Mas Rarasantang dilakukan dengan seijin ayahnya, sedangkan Rajasangara tetap berada dilingkungan Pakuan. Tahta Pajajaran dikemudian hari diserahkan kepada Surawisesa, putra mahkota dari Kentring Manik Mayang Sunda.

Iskandar (2005) menjelaskan, bahwa : pada suatu ketika, Walangsungsang bersama adik-adiknya meminta izin secara baik-baik kepada ayahandanya, untuk pergi ke Kerajaan Singapura (Cirebon). Alasan Walangsungsang dan adik-adiknya yang utama dikemukakan secara terus terang kepada ayahnya. Walangsungsang yang berstatus Tohaan (Pangeran), juga adik-adiknya, merasa bertanggung jawab untuk meningkatkan kualitas dirinya sebagai putera-puteri Maharaja. Mereka merasa haus akan ilmu pengetahuan, terutama dibidang keagamaan. Ketika ibunya masih hidup, mereka ada yang membimbing, tetapi ketika ibunya telah wafat, di Pakuan tidak ada orang yang bisa dijadikan guru mereka. Tidak Ada lagi penenang batin yang memadai bagi mereka.

Sri Baduga Maharaja menurut versi lainnya, ketika itu masih berstatus Prabu Anom, bahkan mertuanya (Prabu Susuktunggal) masih dibawah kekuasaan kakeknya, Sang Mahaprabu Niskala Wastu Kancana. Sri Baduga Maharaja atau Prabu Anom Jayadewata, sangat maklum atas keinginan ketiga puterinya itu. Dengan berat hati ia hanya mengijinkan Walangsungsang dan Rara Santang, sedangkan Rajasangara dimohon tetap tinggal di Pakuan.

Berdirinya Pakungwati
Pada tanggal 14 bagian terang bulan Caitra tahun 1367 Saka atau Kamis tanggal 8 April 1445 Masehi, bertepatan dengan 1 Muharam 848 Hijriah, Pangeran Walangsungsang membuka perkampungan baru dihutan pantai kebon pasisir yang bernama Cirebon Larang atau Cirebon Pasisir.

Nama tersebut diambil berdasarkan nama yang sudah ada, yaitu kerajaan Cirebon yang terletak dilereng Gunung Cereme yang pernah dirajai oleh Ki Gedeng Kasmaya (putera sulung Sang Bunisora). Ketika Cirebon Pasisir sudah berdiri, kawasan Cirebon yang dilereng Gunung Cereme kemudian disebut Cirebon Girang.

Daerah baru tersebut berkembang pesat. Dua tahun setelah didirikan tercatat ada 346 orang. Kampung baru Cirebon Pasisir, penduduknya terdiri atas caruban (campuran) berbagai bangsa dan agama. Mereka sepakat memilih Ki Danusela menjadi kuwu yang pertama, dan Ki Samadullah terpilih menjadi pangraksabumi, dengan julukan Ki Cakrabumi yang kemudian dijuluki pula Pangeran Cakrabuana.

Setelah menunaikan ibadah haji Pangeran Walangsungsang alias Ki Samadullah, mendapat nama baru, yakni Haji Abdullah Imam. Kemudian bermukim di Mekah selama 3 bulan. Di Cirebon, isterinya Indah Geulis, putri dari Ki Danuwarsih telah melahirkan seorang puteri. Untuk kemudian diberi nama Nyai Pakungwati.

Dalam rangka penyebaran agama, ia memperisteri Ratna Riris (puterinya Ki Danusela) dan namanya diganti dengan Kancana Larang. Selanjutnya Ki Danusela wafat, Walangsungsang diangkat menjadi kuwu yang kedua di Cirebon Larang.

Pada tahun 1479 M, kedudukannya digantikan putra adiknya, Nyai Rarasantang dari hasil perkawinannya dengan Syarif Abdullah dari Mesir. Syarif Hidayat berkuasa sejak tahun 1479 – 1568.

Dalam Pustaka Pakungwati Carbon (1779 M) yang disusun oleh Wangsamanggala – Demang Cirebon Girang atas perintah Sultan Muhammad Saifuddin (Matang Aji), dijelaskan tentang letak Pakungwati sebagai berikut :

“Keraton ini didirikan di sebelah barat Kali Karyan. Dahulu disebut Kali Carbon yang dalam jaman hindu disebut Kali Subha. Sebelah hulunya disebut Kali Gangga dan disebelah hulunya lagi disebut Carbon Girang”.


Pembentukan Pakungwati direstui Pajajaran. Sri Baduga mengutus Ki Jagabaya untuk menyampaikan tanda kekuasaan dan memberi gelar Sri Mangana kepada Walangsungsang, putranya. Pada saat itu disampaikan oleh Ki Jagabaya disertai Jasangara, adik bungsu Walangsungsang.

Cirebon Merdeka
Naskah Pustaka Nagara Kretabhumi parwa I sarga 2 menceritakan, bahwa pada tanggal 12 bagian terang bulan Caitra tahun 1404 Saka, Syarif Hidayat menghentikan pengiriman upeti yang seharusnya di bawa setiap tahun ke Pakuan Pajajaran dan menyatakan Cirebon todak lagi berada dibawah kekuasaan Pajajaran. Tindakan tersebut dilakukan setelah terlebih dahulu mendapat desakan dari para wali lainnya.

Ketika itu Sri Baduga baru saja menempati istana Sri Bima di Pakuan diberitakan, bahwa pasukan Angkatan Laut Demak berada di Pelabuhan Cirebon untuk menjaga kemungkinan datangnya serangan Pajajaran. Untuk mengetahui keadaan itu Sri Baduga mengutus Tumenggung Jagabaya beserta 60 anggota pasukannya, namun Ki Jagabaya dan pasukannya disergap hingga tak berdaya menghadapi pasukan gabungan Cirebon - Demak yang jumlahnya sangat besar. Akhirnya Jagabaya masuk Islam.

Peristiwa tersebut membangkitkan kemarahan Sri Baduga. Ia memerintahkan untuk menyiapkan pasukan besar agar segera disiapkan untuk menyerang Cirebon. Akan tetapi pengiriman pasukan dapat dicegah oleh Purohita - pendeta tertinggi keraton, yakni Ki Purwa Galih, dengan alasan, tidak pantas seorang kakek menyerang anak dan cucunya. Disamping itu diyakinkan pula, bahwa yang mengangkat Syarif Hidayat adalah Walangsungsang, putranya sendiri.

Perjanjian Internasional Pertama
Demikianlah situasi yang dihadapi Sri Baduga pada awal masa pemerintahannya, sehingga wajar jika ia mencurahkan perhatian kepada tegaknya pubatisti, purbajati dan membuat parit pertahanan, sebagaimana yang dijelaskan didalam berbagai naskah.

Tome Pires (1513) menyebutkan Sunda sebagai negeri ksatria dan pahlawan laut. Para pelaut Sunda berlayar keseganap pelosok negeri sampai ke Maladewa. Namun berdasarkan keterangan lain Pajajaran hanya memiliki 6 buah Jung, itupun hanya untuk kepentingan perdagangan antar pulaunya. Memang pada waktu itu perdagangan kuda jenis Pariaman mencapai sudah 4.000 ekor pertahun.

Keadaan makin tegang ketika hubungan Demak-Cirebon makin dikukuhkan dengan perkawinan putera-puteri dari kedua belah pihak. Ada 4 pasangan yang dijodohkan, yaitu : Pangeran Hasanudin (Banten) dengan Ratu Ayu Kirana (Purnamasidi) ; Ratu Ayu dengan Pangeran Sabrang Lor ; Pangeran Jayakelana dengan Ratu Pembayun ; dan Pangeran Bratakelana dengan Ratu Ayu Wulan (Ratu Nyawa). Perkawinan Sabrang Lor – Yunus Abdul Kadir dengan Ratu Ayu terjadi 1511, pada saat itu ia menjabat sebagai Senapati Sarjawala (Panglima angkatan laut) Kerajaan Demak, sehngga ia untuk sementara berada di Cirebon.

Hubungan Cirebon-Demak pada masa itu menurut versi lain dianggap mencemaskan Sri Baduga di Pakuan, ia mengutus putera mahkota (Surawisesa) menghubungi Panglima Portugis di Malaka, yakni Alafonso d’Albuquerque, ketika itu baru saja Portugis merebut Pelabuhan Pasai. Pada tanggal 21 Agustus 1522 secara resmi Pajajaran mengadakan perjanjian dengan Portugis. Perjanjian ini di akui dan dikomentasikan sebagai perjanjian internasional pertama di bumi Nusantara.

Upaya Pajajaran melakukan perjanjian dengan Portugis telah meresahkan pihak Cirebon dan Demak. Didalam versi lain yang menghubungkan dengan penyerangan Fadilah Khan ke Kalapa (Jakarta), Pajajaran dianggap salah karena meminta bantuan asing. Padahal Pajajaran sedang mempertahankan kedaulatan wilayahnya. Terhadap versi ini akan menjadi pertanyaan jika diketahui sejarah selanjutnya, yakni ketika Demak menyertakan pasukan Portugis, Banten dan Fadilah Khan (Kalapa) untuk menaklukan Blambangan, Panarukan dan Pasuruan. Dengan demikian menjadi wajar pula ketika ada versi yang menegaskan, bahwa direbutnya Kalapa dari tangan Pajajaran bukan karena masalah penyebaran agama, melainkan suatu bentuk aneksasi dari suatu negara terhadap wilayah negara lain.

Kemudian kisah Surawisesa yang menjadi utusan dalam perundingan dengan Portugis disilokakan didalam Lalampahan Mundinglaya Dikusumah dengan kisah Langlayangan Salaka Domas. Di dalam kisah itu diceritakan Mundinglaya bertemu dengan Guriang, konon sebutan Guriang merupakan siloka bagi orang Portugis yang tinggi besar.

Ketegangan Pakuan dengan Cirebon yang dibantu Demak dan Banten tidak sampai mengakibatkan peperangan, oleh karena itu masing-masing pihak dapat memiliki kesempatan untuk mengembangkan keadaan di dalam negerinya, bahkan kerajaan Pajajaran mencapai puncaknya dan Cirebon menjadi puser penyebaran agama Islam.

Dari penelitiannya Tome Pires (1513) mengetahui wilayah pelabuhan yang termasuk yuridiksi Pajajaran. Ia menyebutkan Banten, Pontang, Cigede, (muara Cidurian), Tamgara (muara Cisadane), Kalapa, Karawang dan Cimanuk, sedangkan Cirebon pada waktu itu telah memisahkan diri. Tapi Pires hanya menyebutkan, bahwa Cirebon termasuk wilayah Demak. Untuk kemudian pembahasan Cirebon ia masukan didalam babnya tentang Jawa. (***).


Sumber Bacaan :

Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah) - Jilid 1, Edi S. Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung, Cet Kedua – 2005

Kebudayaan Sunda – Zaman Pajajaran – Jilid 2, Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung – 2005.

Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.

Yoseph Iskandar. Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa), Geger Sunten, Bandung – 2005.

Sejarah Bogor – bagian 1, Saleh Danasasmita. Pemda DT II Bogor – 1983 – di copy dari pasundan.homestead.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar